Strategi Survival Po Noodle Bar Melawan Pandemi

Satu industri yang dampak pandeminya nggak separah itu adalah industri makanan & minuman atau F&B. Dilansir dari Detik.com, salah satu layanan pesan antar makanan populer dari aplikasi ojek online justru malah naik sebesar 4% dalam jumlah transaksi, Bro! Sebagai satu dari delapan sektor yang masih boleh buka selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), para pelaku F&B terbantu banget dengan kebijakan ini.

Meski begitu, bukan berarti semuanya baik-baik aja, lho. Masih banyak restoran, kafe, atau tempat makan—terutama yang relatif baru berdiri harus gulung tikar karena pandemi COVID-19. Untungnya, bagi Po Noodle Bar, pandemi ini justru bisa diatasi dan mereka malah bisa berinovasi dan bertahan.

Po Noodle Bar sendiri adalah fusion noodle joint yang berlokasi di Senopati, Jakarta Selatan. Belum genap berusia satu tahun, Po Noodle Bar sudah jadi must go to restaurant di Jakarta Selatan. Dengan perpaduan citarasa Western food dan Chinese food yang diwakili bakmi, Po Noodle Bar menawarkan signature taste yang digemari dari tiga menu favoritnya Sui Mian, Ja Mian, dan Sui Kiaw.

Foto costumer Po Noodle Bar dari pantulan kaca

Bukan cuma rasa yang enak, Po Noodle Bar juga memastikan kalau mereka punya harga yang affordable dan bersaing buat makanan dengan kualitas yang mereka tawarkan. Tampilan dan suasana restorannya autentik banget. Perpaduan antara kedai bakmi di Hong Kong dan kedai ramen Jepang era 1960an, Rock & Roll, serta film-film Quentin Tarantino dan Wong Kar-wai menciptakan mood yang menarik banget, Bro.

Dengan semua keunggulan yang ditawarkan, Po Noodle Bar ingin jadi the best part of people’s day atau memberikan pengalaman makan yang berkesan untuk para customer-nya. “Kalau misalnya seharian ini hari lo lagi nggak bagus, setidaknya lo masih inget tadi lunch di Po Noodle Bar, gitu. Kita ingin bisa jadi highlight di hari orang,” tutur Banjo Tasning, selaku Co-Founder Po Noodle Bar mendeskripsikan konsep dari Po Noodle Bar.

Tiga orang customer Po Noodle Bar sedang mengobrol

Solid-nya konsep dan branding mereka bikin Po Noodle Bar cepat populer di antara anak gaul Jakarta Selatan. Sayangnya, pandemi COVID-19 harus mengganggu rencana Po Noodle Bar. Meskipun begitu, Banjo mengakui di tengah pandemi ini mereka harus mengorbankan beberapa hal, tapi juga punya waktu untuk evaluasi dan merilis inovasi buat bertahan.

Po Noodle Bar Merespon Pandemi dengan Dua Inovasi

Saat pemerintah DKI Jakarta memberlakukan PSBB, Banjo dan dua orang rekannya merasa bersyukur karena punya waktu untuk mengevaluasi kinerja mereka setelah sebelumnya tertunda. Mereka memilih untuk menutup Po Noodle Bar secara total selama dua minggu, walaupun sebenarnya mereka masih bisa beroperasi melalui layanan pesan antar dan take away untuk alasan kesehatan dan keselamatan karyawan.
 

Surprisingly, kita justru merasa ada sisi baiknya dengan tutup total. Ada silver lining-nya, lah, dari pandemi kemarin,” ujar Banjo menggambarkan situasi yang Po Noodle Bar lewati selama pandemi ini.

Dua minggu tutup, mereka melakukan efisiensi dalam operasional dan layanan. Juga, yang paling penting menjaga konsistensi rasa makanan. Dari situ juga, mereka punya dua inovasi baru sebagai pertahanan mereka selama pandemi.

Ready to cook meal Po Noodle Bar

Pertama adalah ready to cook meal. Pada dasarnya, mereka mengemas bahan-bahan untuk membuat menu-menu favorit mereka kayak Ja Mian, Sui Kiaw, dan Beef Brisket supaya para pengunjung—khususnya yang di luar Jakarta Selatan bisa masak makanan-makanan ini sendiri di rumah. Langkah ini direspon positif dengan Po Noodle Bar yang membuka dua pick up point di Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Bandung khusus buat ready to cook meal mereka.

Sistem Drive-In di Po Noodle Bar

Setelah ready to cook meal yang disukai customer Po Noodle Bar, mereka mengeluarkan satu inovasi lagi pada Juni 2020, yaitu drive-in dining. Ide ini sebenarnya tidak sengaja dan terinspirasi dari salah satu customer. Kala itu ada pelanggan yang ngotot buat makan di tempat, tapi tidak dibolehkan karena pelarangan selama PSBB.

Alih-alih membawa pulang makanan yang dipesan, pelanggan ini justru makan di mobil dan menunjukkan caranya ke Banjo. Dari situ, Banjo malah dapat ide buat bikin opsi drive-in buat pelanggan yang bener-bener kangen sama suasana Po Noodle Bar. Drive-in pun juga masih tersedia selama PSBB transisi, walaupun lo udah bisa dine-in di Po Noodle Bar.

Satu hal yang disayangkan Banjo adalah alat-alat makan yang hilang atau dicuri selama drive-in. Beberapa mangkok, sendok, bahkan nampan Po Noodle Bar sempat raib. Untuk mengatasi hal itu, Po Noodle Bar menerapkan deposit sebesar Rp100.000.

Seiring dengan industri F&B yang berangsur-angsur pulih, Po Noodle Bar berencana untuk kembali ke beberapa agenda mereka sebelum pandemi. Misalnya melakukan kolaborasi untuk menghasilkan seasonal menu seperti yang mereka lakukan bareng BBQ Mountain Boys tepat sebelum pandemi. Buat lo juga yang tinggal di luar Jakarta Selatan, siap-siap karena Po Noodle Bar juga akan segera buka cabang baru yang sempat tertunda karena pandemi.

Gimana, Bro? Keren banget ‘kan pengalaman Banjo dan dua rekannya dalam menjalankan Po Noodle Bar selama pandemi. Dengan ide yang sederhana, mereka bisa punya cara buat tetap bertahan selama pandemi sambil tetap mematuhi peraturan dan menjaga keselamatan semua orang yang terlibat.

Cerita Po Noodle Bar dan strategi bertahan selama pandemi ini bisa lo tonton langsung di MLDSPOT TV Season 6 #MauLagiDimanapun Episode 3. Di season ini, MLDSPOT TV tampil dengan format episode spesial untuk juga menyesuaikan dengan situasi pandemi COVID-19. Pengen tahu seperti apa konsep barunya? Makanya, lo bisa nonton episode ini melalui YouTube channel MLDSPOT TV. Get Yourself Inspired with MLDSPOT TV.