Merasakan Sentuhan Ramah Lingkungan dari Furnitur Bambu Morotai Home Indonesia

Konsep ramah lingkungan dan suistainable bisa dibilang nggak lepas dari fungsi compact living dan mindful design. Itulah mengapa diperlukan produk yang menganut konsep tersebut, bukan hanya sekadar pembahasan teoretis dan aplikasi melalui pembangunan fisik. Dengan demikian, produk tersebut dapat turut mendukung kehidupan yang sederhana dengan memanfaatkan lingkungan sekitar.

Sebut saja Morotai Home Indonesia (Mohoi), sebuah perusahaan desain yang menghadirkan produk-produk home & lifestyle inovatif. Inspiring brand ini menawarkan sesuatu yang berbeda dengan memproduksi furnitur yang memaksimalkan penggunaan bambu alami. Tujuannya nggak lain dan nggak bukan untuk mempromosikan dan melestarikan warisan lokal Indonesia.

Ide untuk merintis Mohoi pertama kali dicetuskan oleh Rosyid Akhmadi, sang founder dan desainer. Di tahun 2011, lulusan Fakultas Seni Rupa ITB ini mulai memproduksi karpet hand-tufted rugs yang terbuat dari bahan hemp kenaf. Seiring berjalannya waktu, dia pun ingin mengembangkan produk kerajinan untuk dekorasi rumah yang memiliki desain unik dan high value, tapi tetap ramah lingkungan.

Kelly Tandiono sedang mencoba speaker Mohoi

Beralih ke tahun 2014, Rosyid akhirnya berkreasi dengan bambu sebagai material utama untuk Mohoi. Bambu dipilih karena punya ketahanan yang kuat dan baik serta cocok untuk dijadikan produk rumahan dengan fungsinya yang beragam. “Indonesia itu punya banyak sekali material bambu, namun potensinya belum dimaksimalkan. Oleh karena itu, saya mencoba mengolahnya dengan menciptakan desain produk yang memadukan gaya klasik dan futuristik,” jelas Rosyid.

FYI, karena kokoh dan ringan, bambu bisa dijadikan salah satu alternatif terbaik untuk menggantikan kayu biasa, baik untuk furnitur maupun pelapis lantai, kertas, kain, dan bahan bangunan. Dibandingkan dengan kayu, bambu juga cenderung lebih ramah lingkungan. Kalau biasanya kayu butuh minimal 10 tahun untuk tumbuh, bambu hanya butuh waktu sekitar 3-5 tahun. Bahkan, bambu mampu memproduksi oksigen 35% lebih banyak dan punya peran penting dalam menjaga keseimbangan antara oksigen dan karbondioksida di atmosfer.

Kelly Tandiono sedang berbincang dengan para founder Mohoi

Sementara itu, nama Mohoi sengaja digunakan karena Rosyid sempat berkunjung ke Morotai. Dia menyukai keindahan pulau yang terletak di Maluku Utara itu dan banyak terinspirasi dari kultur kehidupan di sana. Selain itu, inspirasi lainnya datang dari kultur Jepang dan Eropa Barat, yang dikombinasikan dengan tradisi kriya Indonesia yang khas.

 

Berkolaborasi Mengoptimalkan Material Sustainable

Balik lagi ke tujuan awal Mohoi, sebisa mungkin brand ini ingin memasukkan sentuhan Indonesia yang otentik, mulai dari pemilihan bahan baku sampai penamaan produk-produknya. Lebih dari itu, Mohoi melibatkan petani lokal yang sudah sangat paham soal bambu. Sistem pembuatannya dilakukan oleh pengrajin bambu asal Tasikmalaya, lalu disempurnakan di Bandung. Intinya, produk Mohoi masih bersifat homemade.

Produk jam dinding dari Mohoi

Secara desain, Mohoi menampilkan serat bambu alami yang cocok untuk mempercantik rumah tipe apapun dengan tampilannya yang minimalis dan modern. “Warna bambu yang terang akan membuat rumah terlihat lebih nyaman dan terkesan lebih luas. Serat alami bambu pun membuat rumah terkesan ‘adem’, makanya cocok banget dipakai di Indonesia,” tambah Rosyid.

Yang lebih menariknya lagi, produk Mohoi nggak membutuhkan pembersihan dan perawatan yang rumit. Lo cukup siapkan sapu kecil, handuk basah, dan sedikit sabun untuk membuat produk Mohoi tetap terlihat seperti masih baru. Di sisi lain, material bambu yang digunakan ternyata bisa memproduksi antioksidan dan menyerap bakteri. Furnitur bambu juga lebih awet dan tahan lama dibanding kayu biasa yang rawan dimakan rayap dan rapuh setelah bertahun-tahun.

Meski demikian, bukan berarti nggak ada kesulitan yang dijumpai Rosyid selama proses produksi. Terlepas dari melimpahnya suplai bambu, ada kalanya iklim dan kondisi sekitar menjadi tantangan. Pada waktu tertentu, bambu nggak baik dipotong karena pertumbuhannya bisa jadi kurang optimal.

Salah satu speaker dari bamboo karya Mohoi

Tapi, memangnya apa saja sih produk-produk Mohoi? Well, sampai sekarang sudah ada puluhan artikel produk yang rutin dirilis mulai dari lampu gantung, tatakan gelas, rak, hingga talenan. Beberapa produk Mohoi turut bekerja sama pula dengan peneliti ITB. Contohnya adalah Masil, yakni produk speaker pasif dengan material bambu yang tetap mampu menghantarkan suara dengan baik.

Nggak ketinggalan, Mohoi telah melakukan banyak kolaborasi seniman lokal Indonesia. Sebut saja Adhi Dharma (Stereoflow), Lala Bohank, Abenk Alter, dan Roby Dwi Antono. “Kolaborasi jadi hal yang penting supaya kita bisa terus menggali ide-ide kreatif sekaligus mengembangkan fungsi dan desain dari setiap produk Morotai Home Indonesia,” ujar Rosyid.

Bahkan, Mohoi kerap membuat workshop dan pernah diundang untuk mengikuti berbagai pameran internasional. Beberapa di antaranya adalah Chiang Mai Design Week, IFFT Interstyle Tokyo, Messe Ambiente Germany, Salone del Mobile di Milan, dan Georgetown Design Festival. Sejumlah penghargaan sudah diraih pula oleh Mohoi, seperti INACraft Emerging Award dan World Craft Council Award. Hal tersebut tentu saja membawa kebanggaan tersendiri, apalagi masyarakat luar masih agak asing dengan produk berbahan bambu yang dinilai eksotis.

Finally, buat lo yang masih penasaran dengan produk Mohoi, lo bisa cek langsung katalognya di situs https://mohoi.id/. Tonton juga obrolan kami selengkapnya bersama Rosyid di MLDSPOT TV Season 5 episode 6 dengan tema “Compact Living” di YouTube Channel MLDSPOT TV. Subscribe our channel, and get yourself inspired!