4 Fakta Seputar Ju-On: Origins, Series Horror Baru di Netflix - MLDSPOT
  • Movie
  • 4 Fakta Seputar Ju-On: Origins, Series Horror Baru di Netflix

4 Fakta Seputar Ju-On: Origins, Series Horror Baru di Netflix

Tue, 14 July 2020
Sosok hantu wanita berambut panjang menutupi sebagian wajah seorang wanita dengan ekspresi kaget

Masih ingat dengan sosok hantu ikonik bernama Kayako? Betul, Kayako adalah hantu yang pertama kali muncul lewat film “Ju-On: The Grudge”, sebuah film horor yang sampai sekarang masih dianggap sebagai salah satu film horor terbaik sepanjang masa. Walaupun lo sekarang masih belum bisa menikmati film horor di bioskop, lo tetap bisa kok masuk lebih dalam lagi ke misteri hantu yang ada di franchise Ju-On.

Hadir dengan total 6 episode, masing-masing berdurasi 30 menit, lihat dulu fakta-fakta seputar “Ju-On: Origins” sebelum lo tonton di Netflix #MumpungLagiDirumah.

 

Mengisahkan Awal Rumah Berhantu di The Grudge

Tampak depan dari rumah berhantu Saeki House di serial Ju-On: Origins

Bagi para pencinta franchise film horor Ju-On, pasti sudah nggak asing lagi kalau mendengar nama Saeki. Dalam film pertama Ju-On: The Grudge yang rilis di tahun 2002, lo diperkenalkan dengan rumah berhantu yang penuh dengan kutukan, di mana setiap penghuninya akan dihantui dengan arwah gentayangan yang haus akan balas dendam. Kisah tragis menimpa penghuni rumah ini, dimulai dari keluarga Saeki.

Dari sana, kutukan pun mengintai rumah yang akhirnya diberi nama Saeki House. Lewat serial Origins, lo akan tahu lebih dalam asal muasal dari kutukan tersebut, sekaligus kisah-kisah supernatural yang menimpa penghuni-penghuni Saeki House setelah keluarga Saeki sudah nggak ada. Bisa dikatakan, Ju-On: Origins menjadi prekuel dari franchise Ju-On.

 

Penuh Darah dan Adegan Sadis

Sosok hantu wanita berambut panjang muncul dari dalam bak mandi yang berisikan darah

Tetap mengikuti konsep yang mendarah daging dengan franchise Ju-On, lo akan disuguhkan dengan adegan gore yang memang sudah jadi daya tarik dari kisah horor yang satu ini. Cocok banget buat lo yang memang lebih suka horor yang lebih sadis dengan tindak kekerasan, ketimbang horor yang dipenuhi jump scares.

Bagi beberapa orang, Ju-On: Origins terlalu berlebihan, tetapi memang serial horor ini dibuat dengan fokus untuk membuat penonton merasa tegang dan gelisah dengan sisi kemanusiaan, bukan rasa takut dengan penampilan arwah gentayangan.

 

Menyorot Kisah Horor Berbagai Karakter

Dua laki-laki dan satu perempuan sedang duduk bersila mengelilingi sebuah lilin

Sedikit berbeda dengan film-film sebelumnya, serial Ju-On: Origins mengisahkan pengalaman beberapa karakter yang dikemas dalam berbagai timeline. Pada dasarnya, karakter utama dari serial ini adalah Saeki House dan lo akan melihat bagaimana pengalaman setiap penghuni di rumah berhantu itu dalam menghadapi kutukan dari arwah gentayangan.

Kerennya lagi, setiap karakter ternyata terhubung, meskipun kisah mereka nggak terjadi di waktu yang bersamaan. Berawal dari tahun 1950-an di mana tragedi keluarga Saeki berlangsung, kemudian dilanjutkan ke era 1980 hingga 1990. Dari kisah setiap karakter, lo akan lebih memahami siapa sih hantu yang ada di Saeki House ini dan mengapa kutukan tersebut menimpa setiap orang yang menapakkan kaki di rumah berhantu itu.

 

Serial TV Horor Produksi Jepang

Sosok hantu berkulit pucat dengan rambut hitam panjang dan iris mata yang agak kemerahan

Sejak tahun 2002, sudah ada setidaknya 13 film yang masuk ke dalam franchise Ju-On, termasuk juga adaptasi Hollywood dari kisah Saeki House. Tetapi, tenang saja Bro. Serial Ju-On: Origins ini merupakan produksi Jepang yang digarap oleh Sho Miyake dengan script yang ditulis oleh Hiroshi Takahashi dan Takashige Ichise. Ju-On: Origins menjadi serial horor baru yang hadir di Netflix, terutama setelah kesuksesan dari “The Haunting of Hill House”. Ju-On: Origins kini sudah bisa ditonton di platform streaming Netflix.

 

 

 

 

Sources: Decider, Insider, Screen Rant

Videografi dan Sinematografi: Ternyata Nggak Sama, Bro!

Thu, 04 March 2021
Videografi

Dalam memproduksi sebuah film emang nggak bisa terhindar dari teknik-teknik yang membuat film itu sendiri hidup. Baik dalam pengambilan gambar, cara menggunakan alatnya, sampai teknik ke dalam bagaimana film itu dikemas.

Dalam sebuah film, nggak cuma ada sinematografi – tapi juga ada videografi. Sinematografi dan videografi emang sering disalah artikan ataupun dianggap sama, tapi yang perlu lo ketahui – kedua hal ini berbeda, bro!

Beberapa minggu lalu MLDSPOT udah sempat ngebahas mengenai sinematografi dan teknik yang perlu diketahui, nah tapi sebenarnya apa sih makna sinematografi dalam film sebenarnya? Dan apakah benar berbeda dengan videografi?

Dari pada bertanya-tanya sendiri dan penasaran, lebih baik langsung aja simak artikel selengkapnya di bawah ini.

Pahami Arti Sinematografi

Videografi

Credit image – Creative Planet Network

Sebelum masuk ke dalam sinematografi itu sendiri, lebih baik luruskan dulu pemahaman lo mengenai film dan video – sinematografi lebih sering digunakan untuk istilah dalam film, sebenarnya video pun bisa, tapi hanya video yang memiliki jalan cerita atau makna yang ingin disampaikan. Jadi, nggak semua video bisa dilihat sinematografinya ya!

Dari segi penilaian, sinematografi emang identik dengan pengambilan kamera. Tapi dalam hal ini bukan cuma bagaimana kamera mengambil sebuah gambar, tapi juga pemaknaan yang diberikan dalam sebuah gambar ketika diambil dan berkaitan dengan scene dari sebuah film atau video.

Nggak cuma kamera aja, efek dari film dan video, lighting, hingga color palette yang digunakan dalam film pun akan menjadi makna berbeda dalam sinematografi. Salah satu hal yang paling terlihat dalam sebuah sinematografi adalah bagaimana para penonton bisa memahami film yang ditontonnya yang dibalut dalam sebuah sinematografi yang baik sebagai penunjangnya.

Lalu, Apa Videografi Sendiri?

Nah kalau selama ini lo merasa sinematografi adalah teknik gimana cara mengambil sebuah gambar yang baik, tanpa shaking, dan lain sebagainya – hal itulah yang disebut dengan videografi.

Videografi hanya sekedar gimana sebuah film dan video diambil, gimana menarik perhatian penonton dari setiap scene-nya dari sebuah gambar. Hal ini nggak kalah penting dari sinematografi – cuma untuk kegunaan, videografi hanya mementingkan estetika aja.

Seorang videografer dalam membuat film atau video dengan videografi yang baik adalah dengan membuat gambar yang diambil menjadi lebih nyata. Pernah nggak sih – lo nonton sebuah film atau video, saking bagusnya lo berasa ada di suasana film itu?

Kalau pernah, itu artinya lo sudah pernah merasakan menonton film atau video yang videografinya bagus.

Jadi, Bedanya Apa?

Videografi

Credit image - FStoppers

Setelah membaca kedua hal yang ternyata berbeda ini, pasti lo sudah memahami kalau sinematografi lebih berfokus pada pengambilan gambar yang juga berpengaruh pada bagaimana sebuah pesan dalam film atau video disampaikan, berbeda dengan videografi yang memfokuskan estetika dalam pengambilan gambar.

Ibaratnya – sinematografi memberikan gambaran bahwa sebuah film dapat terlihat menjadi sebuah cerita, videografi memberikan gambaran bagaimana sebuah film dikemas dan membuat visual semenarik mungkin.

Meskipun kedua hal ini berbeda, tapi yang harus lo ketahui adalah – bahwa kedua hal ini berjalan secara beririsan, alias nggak bisa jalan sendiri-sendiri. Sebuah film atau video nggak akan maksimal hasilnya kalau hanya menerapkan sinematografi aja tanpa ada videografi yang matang, begitu juga sebaliknya.

Jadi, setelah membaca ini – pastikan ketika menonton sebuah film atau video dengan pengemasan visual yang bagus dan jalan cerita yang menarik, itu adalah hasil dari kesinambungan antara sinematografi dan videografi.

 

Feature image – Olerte Maure