Ambon Resmi Jadi Kota Musik Dunia

Fri, 08 November 2019
Tulisan ‘Ambon City of Music’ di salah satu wilayah Kota Ambon, tulisan berwarna merah.

Dalam rangka Hari Kota Sedunia yang diperingati setiap tanggal 31 Oktober, UNESCO menobatkan Ambon sebagai salah satu kota musik dunia. Dengan penobatan ini, Ambon secara resmi bergabung dengan Jaringan Organisasi kota Kreatif yang terdiri dari 246 kota di dunia. Jaringan tersebut menyatukan kota-kota yang dinilai memiliki pengembangan kreativitas dengan baik dalam berbagai bidang, mulai dari seni dan kerajinan rakyat, musik, bioskop, desain, sastra, seni digital, hingga gastronomi.

 

Ambon Punya Semua Aspek dalam Musik

Pemandangan Jembatan Merah Putih di Ambon yang terlihat dari atas.

Penobatan Ambon sebagai salah satu Kota Musik tentunya bukan tanpa alasan, Urbaners. Dilansir dari situs Good News from Indonesia, Anthony Gustav selaku Sekretaris Kota Ambon menyatakan bahwa Ambon dinilai punya semua aspek dalam musik. Ada begitu banyak musisi asal Ambon yang sukses menuai prestasi di tingkat nasional dan internasional.

Selain itu, Ambon juga dikenal akan seruling bambu yang menjadi ciri khas kotanya. Nggak mengherankan kalau banyak musisi Indonesia yang akhirnya menyelenggarakan Konferensi Musik Indonesia. Hal ini jugalah yang berhasil meningkatkan nilai Kota Ambon hingga 12 poin.

 

Butuh Persiapan Selama 3 Tahun

Glenn Fredly mengenakan kaus putih dan scarf merah, sedang tampil di salah satu acara musik.

Perjalanan Ambon untuk menjadi Kota Musik memakan waktu yang nggak sebentar. Persiapannya sendiri butuh waktu selama kurang lebih 3 tahun. Banyak pihak yang terlibat untuk mewujudkan hal ini, di antaranya Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), persatuan musisi serta publik Ambon, Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Maluku, dan Pemerintah Kota Ambon.

Bahkan musisi nasional seperti Glenn Fredly dan Ridho Hafiedz dari Slank juga ikut membantu mengawal persiapan Ambon menjadi Kota Musik. Pada Mei 2019 lalu, keduanya membuat petisi tentang majunya Ambon ke kancah dunia untuk kemudian dikirimkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

 

Bukan Hanya Ambon yang Jadi Kota Musik

Pada Hari Kota Sedunia 2019 ini, Ambon bukan satu-satunya kota yang dinobatkan sebagai Kota Musik. Masih ada 15 kota lainnya, di antaranya adalah Vranje (Serbia), Veszprem (Hongaria), Valparaiso (Chili), Valledupar (Kolombia), Santo Domingo (Republik Dominika), Sanandaj (Repiblik Islam Iran), Ramallah (Palestina), Port of Spain (Trinidad dan Tobago), Metz (Prancis), Lliria (Spanyol), Leiria (Portugal), Kirsehir (Turki), Kazan (Federasi Rusia), Havana (Kuba), dan Essaouira (Maroko).

 

Dengan dinobatkannya Ambon sebagai Kota Musik, sekarang Indonesia punya 3 kota kreatif. Selain Ambon, ada juga Bandung (design) dan Pekalongan (craft and folk arts). Selamat untuk Kota Ambon!

 

 

Sources: goodnewsfromindonesia.id, travel.kompas.com

Soegi Bornean Kalibrasikan Musik Folk Jawa Kalimantan

Mon, 18 May 2020
Personel Soegi Bornean Aditya Ilyas, Fanny Soegiarto, dan Damar Komar

Setuju nggak, Bro, kalau musik bisa dibilang bahasa universal yang dapat disampaikan melalui berbagai cara? Seperti halnya bahasa, musik pun dapat diserap maupun dipadu dari berbagai budaya. Keunikan musik folk pop Soegi Bornean yang dibalut dengan sentuhan etnik Nusantara membuat karyanya jadi makin istimewa. Simak kisah lengkap inspirasi musik Soegi Bornean!

 

Kawinkan Musik Jawa Kalimantan dalam Pop Folk

Mungkin lo mengira bahwa nama “Bornean” berasal dari Kalimantan. Ternyata, band yang lahir pada 21 April 2019 ini justru berasal dari Kota Semarang, Bro. Musik yang dibawakan Soegi Bornean memadukan unsur budaya Nusantara, yakni budaya Jawa dan Kalimantan. Nama “Soegi” diambil dari bahasa Jawa “sugih” yang secara harfiah berarti kaya. Melalui nama itu, harapan akan kaya dalam banyak hal seperti kaya akan karya, hati, dan lain sebagainya disematkan. Selain itu, Soegi juga punya makna lain, yakni nama belakang dari sang vokalis yang berdarah Kalimantan, Fanny Soegiarto.

Penampilan Soegi Bornean yang tak lepas dari sentuhan etnik

Nah, kata Bornean sendiri menunjukkan kecintaan mereka pada tanah Borneo yang menjadi paru-paru Indonesia. Hal ini bisa kita dengar dari petikan gitar Soegi Bornean yang dimainkan oleh Aditya Ilyas dan Damar Komar. Musiknya yang teduh membawa ketenangan dan akan mengingatkan pendengarnya akan hutan Kalimantan. “Musikalitas kami ingin menonjolkan nuansa-nuansa etnik Indonesia melalui petikan gitar. Ini juga salah satu respon nama grup band kami yang membawa beberapa nuansa,” ungkap Aditya Ilyas, sang gitaris.

 

Nyaman dalam Balutan Etnik

Secara konsep, memang Soegi Bornean ingin menonjolkan dua nuansa di dalam lagu-lagu karyanya. Konsep ini ditemukan seiring perjalanan mereka yang berkembang dengan sangat dinamis. Sejak awal, Soegi Bornean menggunakan dua gitar sebagai pemandu dan penyelaras vokal. Tapi nggak menutup kemungkinan untuk menambahkan alat musik pendukung lainnya.

Soegi Bornean tampil nyaman dengan etnik sederhana

Ketika manggung pun, band yang pada April ini akan genap setahun berdiri, selalu membangun aksi berdasarkan kenyamanan. Penampilan dalam berpakaian yang sederhana dengan sentuhan kain etnik yang membumi nggak mengurangi pesona Soegi Bornean. Gerak tubuh lembut dari Fanny sang vokalis yang mengalun seirama juga kerap kali membuat penontonnya terpana. Malah, gaya folk mereka ini mampu menjadi daya tarik dan ciri khas tersendiri. Pembawaan yang tenang ketika menghibur para penonton diyakini akan mampu membuat pesan dapat tersampaikan dengan baik.

 

Dari Saturnus hingga Kala

Ketika akan merilis single perdananya, “Saturnus”, banyak keraguan muncul dibenak Soegi Bornean tentang bagaimana masyarakat menerimanya. Namun, mereka menyadari bersama bahwa ketika membuat sebuah karya dan dipublikasikan untuk dinikmati khalayak, kendali atas kuantitas pendengar maupun penikmat karyanya bukan lagi ada di tangan mereka. Damar mengungkapkan jika ternyata respon yang didapatkan di luar dugaan, “Kami bersyukur respon karya pertama kami justru bisa kami bilang sangat bagus. Dan kami sangat  berterima kasih atas itu kepada teman-teman semua. Karena berawal dari lagu itu juga memantik semangat kami untuk menciptakan  karya lain.”

Di awal 2020, Soegi Bornean telah merilis mini album berjudul “Atma” yang berisi enam lagu. “Asmalibrasi” menjadi salah satu lagu andalan yang membuat banyak pendengar awam langsung jatuh cinta. Terbukti, jumlah pendengar lagu ini berada di peringkat nomor satu dibanding lagu lainnya yang diunggah ke saluran YouTube Soegi Bornean. Lagu Asmalibrasi bercerita tentang satu pasangan yang ingin melanjutkan hubungan ke tahap berikutnya. “Kita sadari bahwa sebagian besar goal dari sebuah hubungan asmara adalah indahnya pernikahan. Hal itu yang sebenarnya ingin kami angkat,” jelas Erick, manager sekaligus Executive Producer serta penulis lirik Asmalibrasi.

“Setiap pasangan punya cerita. Setiap cerita mengandung rasa. Setiap rasa berharap ada cinta. Jika sudah saatnya, semoga semua cinta sederhana dan setara,” begitu Soegi Bornean mendeskripsikan lagu Asmalibrasi. Musik videonya membawa nuansa alam menggunakan warna-warna earth tone yang menenangkan dan selaras dengan nada-nada yang dimainkan. Keceriaan terpancar melalui lirik-liriknya yang bahagia.

Penampilan Fanny Soegi Bornean dalam music video Kala

Jauh berbeda dengan nuansa vibrant yang dibawa Asmalibrasi, Maret 2020 ini Soegi Bornean baru saja merilis karya terbarunya yang berjudul “Kala”. Lagu ini berbicara tentang hilangnya waktu saat muda yang berubah menjadi kenangan. Pantomim yang dihadirkan dalam musik video Kala memberikan tambahan sentuhan emosional. “Sejauh ini, semua lirik dalam lagu kami membahas tentang rasa dan jiwa dalam diri manusia. Apa yang terjadi di sekitar dan bagaimana respon diri menghadapinya,” pungkas Fanny yang juga penulis lirik lagu Kala.

 

Nanti Kita Bertemu: Siasati Rindu Manggung

Diakui Soegi Bornean, dari awal saat performer dan tim dibaliknya saling berjabat tangan untuk mengerjakan semuanya dengan serius. Mulai dari konsep musik dan penampilan yang terancang, hingga bentuk-bentuk publikasi di media sosial. #BERSOEGIRIA dan kabar baik menjadi bentuk konten publikasi unik yang digunakan di Instagram mereka @soegiborneanmusik. Selain itu, memang ada anggota tim yang berangkat sebagai seorang jurnalis, termasuk salah satunya sang gitaris Aditya Ilyas.

Soegi Bornean usai tampil secara live beberapa waktu lalu

Bahkan, ketika kini pandemi corona mewabah di seluruh dunia, Soegi Bornean telah menetapkan langkahnya. Imbauan social distancing tentu berpengaruh terhadap jadwal manggung mereka yang harus ditunda. Meski begitu, Soegi Bornean mengambil langkah untuk ikut mengkampanyekan kegiatan social distancing demi mengurangi penyebaran COVID-19. Mereka ingin mengajak masyarakat saling menjaga di tengah pandemi melalui konser live Instagram #BERSOEGIRIAdaring bertajuk “Nanti Kita Bertemu”. Konser tersebut digelar pada Sabtu, 28 Maret 2020 lalu pukul 20.00 WIB.

Selain itu, Soegi Bornean juga melakukan penggalangan dana untuk turut berkontribusi dalam melawan pandemi ini. Mereka berharap bisa ikut sedikit membantu agar kondisi ini segera berlalu, sehingga Soegi Bornean dan penggemarnya dapat dengan leluasa kembali bertemu. Langkah Soegi Bornean tadi semoga bisa jadi inspirasi agar tetap berkarya dan membantu sesama meski di masa sulit seperti ini, Bro.