Home Music Lika-Liku dan Sepak Terjang Band Jazz Indonesia
Lika-Liku dan Sepak Terjang Band Jazz Indonesia

Lika-Liku dan Sepak Terjang Band Jazz Indonesia

Wednesday, December 26, 2018 - 18:29
Bagikan
Facebook Twitter Email

Tahun 1980-an dan 1990-an merupakan tahun yang cukup sulit bagi para penyanyi atau band yang memiliki genre jazz. Stigma bahwa musik jazz adalah musik orang kaya dan terkesan eksklusif masih sangat kental. Baru di akhir tahun 1990-an dan awal 2000-an, musik jazz mulai diterima semua kalangan. Tandanya banyak festival musik jazz dengan harga terjangkau dan lineup yang beragam. Tepatnya di tahun 2005, Jakarta International Java Jazz Festival menjadi tonggak baru naiknya aliran musik jazz di Indonesia. Festival tersebut rutin diselenggarakan setiap tahun dan sudah masuk agenda festival jazz dunia.

Selain kehadiran festival yang sangat membantu menaikkan pamor musik jazz secara keseluruhan, fusion aliran musik juga berperan penting. Jika dulu lo mungkin hanya melihat musisi jazz kebanyakan bermain piano dan full band lengkap, maka sekarang lo bisa melihat fusion dengan rock, funk, ataupun pop. Dari situ, musisi jazz nggak hanya diisi orang itu-itu aja, muncul pula anak muda yang energik dengan nuansa musik jazz yang berbeda dan segar.

Di awal tahun 2010, pergerakan era musik digital begitu pesat. Jika dulu para musisi jazz berlomba mengeluarkan album, sekarang mereka memiliki strategi untuk mengeluarkan single terlebih dahulu. Setelah terkumpul beberapa lagu, baru mereka mengeluarkan album fisik. Jadi bisa dibilang, album fisik merupakan sebuah barang wajib yang dibeli, apalagi untuk lo yang merupakan fans berat atau kolektor.

 

10 Grup Band Jazz Indonesia yang Wajib Lo Koleksi Album Fisiknya 

Nah, setelah lo mengetahui secara singkat bagaimana musik jazz berkembang di Indonesia, sekarang akan dibahas siapa saja sih musisi jazz dalam bentuk band yang album fisiknya wajib lo koleksi. Simak di sini ya, Urbaners.

 

Maliq & D’Essentials 

Maliq & D’Essentials

Music And Live Instrument Quality atau disingkat menjadi Maliq menjadi salah satu band yang merasakan bagaimana kebangkitan musik jazz yang ada di Indonesia. Maliq & D’Essentials lahir pada bulan Mei 2002. Saat itu Maliq hanya bermain di hotel dan café, sebelum akhirnya mengeluarkan album pertamanya di tahun 2005 dengan judul 1st (2005). Lagu berjudul Terdiam dan Untitled benar-benar mengantarkan Maliq menjadi salah satu band jazz yang populer.

Di tahun yang sama, Maliq berhasil masuk Jakarta International Java Jazz 2005. Dari situ hype Maliq sebagai band yang slow groovy menjalar ke seluruh Indonesia. Sampai sekarang, Maliq & D’Essentials sudah mengeluarkan 9 album. Album terakhir mereka berjudul Senandung Senandika (2017) bisa lo beli dalam bentuk fisik. Tetapi jika lo ingin mengoleksi barang langka dari Maliq, lo bisa berburu CD dari album pertama mereka berjudul 1st.

 

The Groove

Maliq & D’Essentials

Jika Maliq menjadi sejarah bagaimana perkembangan musik jazz menjadi mainstream di Indonesia, maka The Groove yang lebih senior dapat dikatakan menjadi pioneer pergerakan musik jazz. Yup, Urbaners, The Groove merupakan salah satu band pertama yang bisa menularkan racun musik jazz ke telinga para penggemar musik di Indonesia. The Groove merupakan band dengan aliran Acid Jazz yang merupakan gabungan (fusion) antara jazz, soul, funk, dan disko.

Lagu-lagu seperti Khayalan, Dahulu, dan Satu Mimpiku benar-benar sangat nyaman di telinga penikmat musik Indonesia. Dengan kombinasi perkusi dan full band, The Groove bisa dibilang pembawa aliran musik baru dan membantu jazz populer di kalangan musisi ataupun masyarakat Indonesia pada umumnya. Dengan total album hanya 5, wajar album fisik The Groove ini menjadi yang paling dicari.

 

Barry Likumahuwa Project

Barry Likumahuwa Project

Melihat dari dekat Barry Likumahuwa membetot bass elektrik secara langsung adalah kenikmatan tersendiri bagi para pecinta musik jazz. Barry Likumahuwa merupakan salah satu pemain bass dan jazz berbakat, bahkan termasuk salah satu yang terbaik di Indonesia. Darah jazz mengalir dari sang ayah, Benny Likumahuwa, membuat Barry menghabiskan masa kecilnya dengan bermain piano, trompet, dan juga bass. Setelah masuk ke industri, Barry Likumahuwa reguler berada di balik layar musisi terkenal seperti Glenn Fredly, Tangga, Andien, Agnes Monica, dan Dewi Sandra.

Baru tahun 2006, Barry membuat sebuah project “iseng” dengan nama Barry Likumahuwa Project (BLP). Siapa sangka dulu Barry yang hanya dianggap sebagai pengiring, kini dengan BLP-nya Barry membawa musik funk jazz menjadi sangat asyik untuk didengarkan. Beberapa album yang wajib lo koleksi dari BLP adalah Good Spell (2006), Generasi Synergy (2011), Generasi Synergy Repackage (2012), dan Innerlight (2014).

 

Syaharani & Queenfireworks 

Syaharani merupakan penyanyi kawakan yang reguler dan konsisten dengan genre jazz sejak tahun 1990-an. Setelah itu, Syaharani mulai terlihat ketika ikut tampil pada acara North Sea Jazz Festival 2001 bersama penyanyi jazz legendaris dunia. Setelah beberapa kali tampil solo, di tahun 2006 Syaharani membuat band dengan nama Syaharni & Queenfireworks. Album pertama mereka adalah Buat Kamu (2007), kemudian disusul Anytime (2010), dan Selalu Ada Cinta (2014).

Sekarang, walaupun lo jarang banget melihat nama Syaharni di televisi, jangan heran karena Syaharani ini sudah melanglang buana ke seluruh dunia untuk mengisi perhelatan festival jazz. Selain album solonya, album Syaharani & Queenfireworks juga wajib lo koleksi, Urbanaers.

 

Abdul & The Coffee Theory

Abdul & The Coffee Theory

Salah satu grup band jazz yang sedang naik daun sekarang adalah Abdul & The Coffee Theory. Bahkan sebenarnya band yang digawangi oleh Tengku Abdul ini sudah mewarnai musik jazz Indonesia sejak 2008. Dengan mengusung aliran musik pop jazzy, Abdul & The Coffee Theory ini mengajak para pendengarnya untuk berjoget dengan alunan musik yang sangat slow dan santai. Selain itu, ciri khas lirik dari Abdul & The Coffee Theory yang polos seakan menjadi pembeda tersendiri.

Abdul & The Coffee Theory ini sudah mengeluarkan 4 album, yaitu Lovable (2008), Love Theory (2010), Rocket Love (2012), Lovable Special Edition (2014), dan The Best of Bahagia Versi Kita (2016) yang wajib lo koleksi, Urbaners. Sekarang Abdul & The Coffee Theory sedang mengerjakan album baru dan sudah mengeluarkan beberapa single.

 

Ten2Five 

Ten2Five menghentakkan panggung LaLaLa Festival 2018 kemarin. Banyak yang mengira bahwa Ten2Five ini sudah vakum, padahal mereka masih sering manggung walaupun nggak terlalu diekspos. Dengan aliran pop jazz, Ten2Five ini mengajak semua penikmat musik di Indonesia untuk mendengar bagaimana alunan musik yang slow juga bisa dinikmati dan juga dinyanyikan bersama. Album pertama Ten2Five adalah I Will Fly (2004) dengan hits single I Will Fly.

 

SORE

SORE

Nama resminya adalah SORE ZE BAND, tetapi banyak yang menyebut dengan SORE. Band yang beraliran fusion jazz, funk, dan pop ini sampai sekarang konsisten berada di jalur indie sejak pertama kali muncul di tahun 2003. Mulai tenar setelah mengisi soundtrack dari film Janji Joni (2005), nama SORE semakin menggila setelah album mereka yang berjudul Centralismo (2005) disebut sebagai One of Five Asian Albums Worth Buying oleh Time Magazine dan masuk ke dalam 150 Greatest Indonesian Album of All Time. Jadi, masih berpikir lagi untuk membeli album pertama dari SORE?

 

Payung Teduh 

Payung Teduh hadir sebagai band indie yang sangat sensitif terhadap lirik lagu. Coba perhatikan bagaimana lirik lagu dari Untuk Perempuan yang Berada di Dalam Pelukan, Di Atas Meja, atau Berdua Saja yang bisa menusuk hati ketika lo sangat relate dengan lagu-lagu tersebut. Walaupun kemarin sempat terjadi kontroversi karena vokalis mereka Is keluar, tetapi Payung Teduh masih menjadi band indie jazz terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia.

 

Stars & Rabbit

Duo asal Yogyakarta ini benar-benar mengerti bagaimana menyihir semua pendengarnya. Dengan menganut aliran musik folk jazz, Stars & Rabbit yang digawangi oleh Elda Suryani dan Adi Widodo ini sudah terkenal sejak tahun 2011, lho. Ketika itu Stars & Rabbit belum membuat album, dan hanya mengisi festival musik dan konser. Baru di tahun 2015 album pertama mereka berjudul Constellation (2015) membawa mereka semakin terkenal.

 

Banda Neira

Banda Neira

Grup band jazz ini menjadi penutup mengapa lo harus membeli album mereka. Band yang beraliran folk jazz ini sudah memutuskan bubar tahun 2016 kemarin. Selama karirnya, Banda Neira yang digawangi Rara Sekar dan Ananda Badudu ini sudah mempunyai 2 album, yaitu Berjalan Lebih Jauh (2013) dan Yang Tumbuh, Yang Hilang Berganti (2016). Walau hanya 2 album, tetapi para penggemarnya sangat hafal setiap lagu-lagunya.

Itulah Urbaners, 10 grup band jazz Indonesia yang albumnya wajib lo koleksi. Ada beberapa yang masih eksis sampai sekarang dan ada yang bubar. Tentu kedua faktor tersebut akan membuat semakin rare koleksi albumnya. Bagaimana, tertarik menjadi kolektor album musik jazz Indonesia?

 

 

 

Source: billboard.com