• News
  • Kisaku: Tempat Ngopi yang Aman Bagi Para Vegan

Kisaku: Tempat Ngopi yang Aman Bagi Para Vegan

Mon, 09 September 2019
Penampilan depan Kisaku di Jalan Laksana I No. 24, Jakarta Selatan

Urbaners, skena per-kopi-an di Jakarta memang sangat menarik buat diikuti. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak banget jumlah kedai kopi yang bermunculan di sudut-sudut kota. Nggak hanya menawarkan berbagai olahan kopi, setiap kafe juga berlomba untuk menarik perhatian pengunjung dengan interior Instagramable dan ikonik.

Salah satu kafe terbaru yang hits saat ini adalah Kisaku. Terletak di area Senopati, kafe ini didirikan oleh Raline Shah bersama dengan adik dan sahabat-sahabatnya. Dengan konsep minimalis dan homey, Kisaku menjelma jadi tempat nongkrong terbaru bagi penduduk Jakarta. Ini dia beberapa alasan kenapa lo wajib mengunjunginya, Urbaners!

 

Ambiance yang Akrab dan Suasana Asri

Terletak di kompleks yang cukup sepi, tampilan depan Kisaku terkesan adem dan penuh dengan sentuhan minimalis. Kafe yang buka dari jam 8 pagi sampai 6 sore ini memang sengaja mengambil konsep minimalis dan menggunakan warna-warna earthy seperti beige dan putih. Dari tampak depannya aja, lo udah bisa merasakan ketenangan dan nggak sabar ingin masuk ke dalamnya.

Interior Kisaku didominasi dengan warna putih bersih. Pertama kali masuk, lo akan disambut dengan meja display dan kasir. Jadi, lo bisa memesan dulu makanan dan minuman sebelum memilih kursi. Di Kisaku sendiri, area utamanya terbagi menjadi dua, smoking dan non-smoking area. Area non-smoking lebih kecil dibandingkan area terbuka di bagian belakang. Mungkin, hal ini dilakukan untuk mengakomodasi lebih banyak pengunjung yang hendak merokok.

Tempat duduk komunal yang menciptakan kesan akrab dan hangat antar pengunjung

Area smoking di sini terasa seperti halaman belakang rumah, alih-alih kedai kopi yang formal. Soalnya, lo nggak bakal menemukan banyak meja dan tempat duduk ala kafe. Yang ada adalah tempat duduk komunal dengan meja-meja kecil, sehingga menciptakan sesi ngobrol yang lebih asyik dan suasana hangat. Ada juga beberapa pasang meja kalau lo ingin nge-date bareng pasangan, Urbaners.

Asyiknya lagi, Kisaku juga punya area terbuka dengan alas rumput sintetis yang adem banget buat dipandang. Dinding area terbuka ini terbuat dari puluhan cup kopi yang nantinya diresmikan menjadi sebuah instalasi yang menarik. Nggak heran, banyak banget pengunjung Kisaku yang berlomba-lomba mengambil foto di sudut fotogenik ini.

Area belakang Kisaku yang terlihat asri dan fotogenik

“Gue pertama tahu Kisaku karena banyak teman-teman yang ngajakin ke sini, katanya coffee shop baru. Ternyata pas nyoba emang tempatnya enak banget buat sekedar ngobrol sambil ngopi. Nggak terlalu rame dan nggak ada musik yang bising, jadi bisa fokus ngobrol sama temen-temen,” kata Ardi yang dateng bareng teman-teman kuliahnya.

 

Kopi Lebih Sehat dan Vegan-Friendly

Walau mengusung konsep interior minimalis, tapi menu yang disajikan di Kisaku terbilang oke, Urbaners. Karena banyak mengandalkan kopi take-away, Kisaku menawarkan olahan kopi dalam kemasan botol yang siap diminum. Ada kopi hitam, iced latte, iced kampoeng latte, dan iced pandan latte dalam kulkas display, sehingga lo bisa mengambil langsung minuman yang lo inginkan.

Iced Pandan Latte menjadi salah satu menu favorit pengunjung Kisaku

“Yang jadi favorit pengunjung biasanya adalah iced pandan latte. Elemen pandan bisa menambah aroma dan sentuhan nuttiness ke espresso,” kata barista Kisaku. Rekomendasinya pun nggak salah Urbaners, karena setiap tegukan iced pandan latte terasa segar dan seimbang antara rasa kopi dan manisnya. Kalau lo ingin minumannya lebih dingin, lo juga bisa meminta gelas dan es batu ekstra dari barista. Dijamin refreshing banget di tengah cuaca terik kota Jakarta!

Selain kopi botolan dingin, ada juga hidangan kopi hangat. Kisaku menggunakan biji kopi Aceh Gayo dan Flores Bajawa karena masing-masing mempunyai cita rasa unik. Rata-rata harganya berkisar antara Rp20-40 ribu. Tapi, yang bikin Kisaku beda dari kedai kopi lain, mereka juga punya olahan kopi yang ramah buat para vegan.

Istimewanya, Kisaku mengolah latte dan cappuccino dengan menggunakan Oatly, yaitu susu yang terbuat dari gandum. Selama ini, vegan nggak bisa menikmati olahan kopi yang dicampur dengan susu sapi. Tapi, dengan menggunakan susu gandum yang gurih, Kisaku bisa merangkul lebih banyak pengunjung.

“Kisaku adalah bagian dari third-wave coffee movement dengan konsep grab-and-go. Soalnya, di Indonesia, terutama di Jakarta, konsumen sangat memprioritaskan waktu dan kualitas. Karena itulah, kami mempunyai spesialisasi di kopi botolan dan salah satu menu yang paling laris adalah kopi dengan Oatly, susu gandum yang sudah terkenal di dunia. Kami adalah kedai kopi pertama di Indonesia yang menghadirkan Oatly,” kata Cath Halim, Chief Marketing Officer dari Kisaku.

 

Bukan Hanya Tentang Kopi

Iced Pandan Latte dan nasi jeruk gurih, cocok buat teman makan siang!

Kalau lo bukan orang yang hobi minum kopi, jangan khawatir, Urbaners! Kisaku tetap menyediakan pilihan minuman lain, seperti iced chocolate, berbagai olahan jus segar, air kelapa, dan juga smoothies. Untuk olahan jus, yang paling recommended adalah Thin Berry yang terbuat dari strawberry dan pisang.

Untuk menemani sajian minuman, lo bisa menikmati cookies premium atau rice bowl yang disediakan. Snack cookies yang disajikan di sini punya pilihan rasa yang unik, seperti rasa martabak dan putri salju. Cocok buat menemani lo ngemil sambil ngobrol! Atau, kalau ingin yang lebih mengenyangkan, lo bisa pilih rice bowl berupa nasi jeruk atau nasi bogana.

 

Rencana Kisaku ke Depannya

Raline Shah dan timnya punya banyak rencana untuk membesarkan Kisaku

Nama Kisaku sendiri merupakan kata dari bahasa Jepang yang berarti: hangat, welcoming, dan hati yang terbuka. Untuk itu, tim Kisaku berharap bisa memperbesar kedai kopi ini untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas.

“Di bulan November 2019, kami akan membuka cabang di Revenue Tower, SCBD. Kami juga sedang dalam proses finalisasi lokasi berikutnya,” kata Cath.

Nah, Urbaners, kalau lo pingin ngopi santai dengan suasana yang hangat dan akrab, cobain aja mampir ke kedai Kisaku yang ada di Senopati. Happy coffee-ing!

 

Pemuda Sinarmas: 15 Menit Pertama Masa Krusial untuk Silent Koplo

Thu, 05 March 2020
Pemuda Sinarmas sedang berada dibelakang DJ booth MLDSPOT Art & Sound Experience

Selama tiga hari pagelaran Jakarta International Java Jazz Festival 2020, ada satu tempat yang menyajikan penampilan paling berbeda. Lokasi yang terletak di sisi luar ini bernama MLDSPOT Art and Sound Experience. Sebuah tempat yang menawarkan pengalaman baru menikmati musik dengan “diam-diam” di saat panggung satu dan yang lainnya bersaut-sautan dengan dentuman musik bervolume keras.

Player yang menyajikan musik Silent Koplo ini adalah Pemuda Sinarmas. Ia mengaku baru pertama kali melakukan penampilan dengan cara Silent Koplo. Untungnya Ajis, begitu ia akrab disapa, mendapatkan tempat bermain yang mendukung dan membangun mood pengunjung jadi lebih nyaman menikmat musik Silent Koplo.

Namun environment lokasi Art and Sound ini akan menjadi sia-sia bila Ajis gagal menyajikan playlist yang kurang asik. “Vibenya pas di booth ini orang datang dan pergi, gua harus ngatur playlist, datang pertama vibenya harus koplo santai dulu,kata Ajis saat ditemui usai penampilannya di hari ketiga.

Bagi Ajis tantangan main untuk Silent Koplo adalah harus menyiasati playlist dengan tepat agar orang tetap stay dengan headset-nya. “Kuncinya gua buat nyaman diri gua sendiri dengan playlist, ngebangun mood pelan-pelan. Sejam sih cukup. Yang krusial itu 15 menit pertama, ketika mainin 2-3 lagu, dan lagu pertama itu paling krusial. Untungnya gua ga main sm DJ lain, jadi ga perlu perhatiin dia bawain lagu apa, ini bisa ngebangun mood gua sendiri. Gimmick awal gua tetap sajikan musik yang punya kultur jazz, ini tantangan baru buat gua dan bisa berhasil 90%,ujar Ajis.

Pengunjung Java Jazz Festival 2020 menggunakan headphone di booth MLDSPOT Art & Sound Experience

Selain itu, hal yang terpenting adalah ia harus merespon flow audience yang datang, “karena di Java Jazz Festival gua harus buat mereka nyaman dengan musik-musik yang punya kultur Jazz juga, untungnya gua punya databased kaset Beatles yang dangdut, dari tahun sekitar 80-an. Kalau langsung bpm (tempo musik ) tinggi mereka pasti langsung kabur, beat santai yang punya alunan saksofon dan dentuman kendang itu bisa bikin pengunjung stay, setelah itu baru gua naikin bpm dengan playlist yang funky sesuai booth ini,” kata Ajis yang pernah datang ke acara Silent Disco.

 

BUKAN DJ IDEALIS

Belakangan koplo memang menjadi musik yang paling diminati untuk pengalaman seru-seruan bersama teman bernyanyi dan berjoget bersama. Namun Ajis punya pandangan lain.

“Koplo ini hanya tren aja, gua dulu mainin disko ketika itu gua masukin funky kota dan koplo, lalu saat ini boom koplo. Tantangannya bagaimana kita terus memutarkan roda tren itu. Gua menyadari bahwa bermain musik di elektronik sebisa mungkin bisa disesuaikan dengan tren,”

Sebelum bermain koplo dan disko, dahulu Ajis memulai karier Pemuda Sinarmas dengan memainkan lagu-lagu reggae sampai akhirnya ia kesulitan mencari kasetnya.

Ga selamanya kuping orang kuat dengan musik koplo, bakal jengah pasti.

Gua menyadari bukan DJ yang idealis, gua masukin beragam genre malah di performance gua, tujuannya untuk kasih tau kalau musik Indonesia itu tuh banyak banget. Gua nggak mau terpaku dengan satu genre dan satu identitas kalau Ajis itu DJ anu. Kadang gua mainin etnik juga, lagu Sunda, Banyuwangi, sampai Sumatera. Biar ga stuck dan bisa berkembang,” ujar Ajis.

4 orang pemuda menggunakan headphone di MLDSPOT Art & Sound Experience

Dalam kesempatan yang sama, Ajis meramalkan nantinya orang-orang pasca kelelahan telinganya dengan musik koplo akan balik ke genre house dan RNB, “RNB ga bakal mati. Disko selalu ada dan stabil. Kalau kople belum tentu, waktu gua main di Surabaya gua dilarang mainin koplo. Karena koplo itu udah kulturnya di sana dan mungkin mereka bosen. Tapi sekarang sedang jadi tren di ibu kota,” tutup Ajis.