• News
  • Lokali Ajak Traveller Menikmati Eco-Traveling Indonesia

Lokali Ajak Traveller Menikmati Eco-Traveling Indonesia

Fri, 08 November 2019
Traveling to the next level bersama Lokali

Urbaners, beberapa tahun belakangan pariwisata Indonesia lagi berkembang dengan sangat pesat. Nggak hanya di Pulau Bali, sekarang makin banyak turis lokal dan mancanegara yang mengeksplor keindahan Indonesia di pulau-pulau lain, seperti Labuan Bajo, Gorontalo, dan Kalimantan. Sayangnya, perkembangan pariwisata yang meroket terkadang nggak diiringi dengan kesadaran menjaga lingkungan.

Konsep eco-traveling dan sustainability tourism masih sangat jarang diadopsi oleh turis maupun pemandu tur. Nggak heran kalau destinasi yang happening kerap terancam jadi kotor atau rusak karena dibanjiri oleh pengunjung. Lokali, kemudian hadir sebagai penyedia jasa trip yang ingin menghindari dampak buruk eksploitasi wisata lewat konsep trip yang lebih edukatif dan ramah lingkungan. Kenalan sama mereka, yuk!

 

Lebih Intim Antara Penduduk Lokal dan Wisatawan

Berdiri sejak November 2017, Lokali dibangun atas dasar kecintaan akan budaya Indonesia dan keinginan membangun intimasi antara wisatawan dan penduduk lokal. Untuk kuantitas rombongan sendiri, Lokali memilih konsep limited seat supaya peserta bisa merasakan interaksi yang lebih dalam dan informasi yang disampaikan juga bisa dipahami dengan lebih baik.

Turut serta dalam dialog yang diadakan penduduk lokal

“Sejauh ini, Lokali sudah punya tiga destinasi utama, yaitu Ciptagelar di Sukabumi, Jatiwangi Art Factory, dan Cireundeu di Cimahi,” jelas Zakiy, founder dari Lokali. Walaupun terbilang sedikit secara kuantitas, tapi dari segi kualitas trip yang dibuat Zakiy sangat berkesan.

Pada trip Ciptagelar, lo akan diajak untuk melihat, mengamati, dan ikut serta dalam persiapan pesta panen Kasepuhan Ciptagelar. Termasuk di dalamnya adalah workshop pembuatan simpay (gelang khas dari Ciptagelar), tur kampung untuk melihat lebih dekat aktivitas penduduk lokal, dan kelas budaya padi.

Untuk trip Cireundeu sendiri, aktivitas yang bakal lo lakukan adalah mempelajari adat budaya setempat. Cireundeu adalah kampung adat yang sudah berhasil swasembada pangan dengan singkong, sehingga di sana lo bisa melihat bagaimana penduduk lokal berusaha menjaga keseimbangan hidup dengan alam.

“Kalau di Jatiwangi, lo bisa ikut workshop mengolah keramik, mengunjungi studio keramik, museum kebudayaan tanah, melihat lebih dekat pabrik genteng di Jatiwangi dan bercengkrama dengan penduduk lokalnya secara santai,” jelas Zakiy. Melihat itinerary-nya aja, lo udah bisa menilai kalau Lokali memang beda dari penyedia tur pariwisata yang biasanya. Tur ini cocok banget buat lo yang ingin menangkap esensi utama dari traveling, yaitu mengenal budaya dan orang-orang baru.

 

Bukan Asal Jepret, Lo Wajib Respect!

Melihat aktivitas penduduk lokal lebih dekat

Lokali sangat menjunjung tinggi konsep eco-tourism dan eco-traveling. “Traveling itu nggak cuma soal jepret dan selfie, kita harus respect dengan budaya setempat,” kata Zakiy tegas. Salah satu bentuk rasa hormat atas budaya setempat adalah nggak memaksakan pengadaan suatu acara karena acara tersebut belum pas waktunya untuk diselenggarakan.

Lo pasti sering dengar kan, beberapa contoh ketika sekelompok turis meminta kepala daerah mengadakan suatu upacara demi kepentingan dokumentasi. Nah, Lokali nggak mau berpartisipasi dalam praktek seperti itu. “Kalau memang belum waktunya untuk diadakan upacara, ya berarti kita harus menunggu. Jangan sampai kita paksain supaya dibikin, itu namanya nggak menghormati budaya yang ada,” tambahnya lagi.

Pesan yang ingin disampaikan Lokali adalah jangan sampai kehadiran wisatawan justru merusak tradisi atau nilai-nilai baik yang ada pada penduduk lokal. Setuju nggak, Urbaners?

 

Keluar dari Zona Nyaman

Ikut serta dalam kegiatan merakit kerajinan lokal

Makna traveling buat Lokali sebenarnya adalah keluar dari zona nyaman. Traveling juga bukan hanya soal jarak, karena lo sebenarnya bisa melakukan traveling di kota sendiri. Caranya, datanglah ke tempat-tempat yang belum pernah lo kunjungi sebelumnya.

Traveling sebenarnya nggak hanya sekadar refreshing, tetapi juga cara asyik untuk mendapatkan wawasan baru, bersilaturahmi, bertemu dan berkenalan dengan orang baru, dan menyadari kalau sebenarnya kita ini begitu kecil dan dunia ini begitu luas. “Buat gue, traveling itu bagus untuk pembentukan mental, supaya kita sadar diri, tahu diri, dan bersyukur,” ujar Zakiy.

Zakiy juga menambahkan, ada baiknya sebagai wisatawan, lo selalu menerapkan konsep eco-traveling kemana pun melakukan perjalanan. Konsep ini sebenarnya terdiri dari tiga aspek, yaitu aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Untuk sisi ekonomi, pastikan ketika lo belanja, lo bertransaksi dengan warga lokal dibandingkan membeli merek-merek dari luar. “Usahakan sebisa mungkin supaya kebutuhan makan, akomodasi, dan transportasi lo pilih dari penyedia lokal,” tambah Zakiy.

Kemudian kalau dari sisi lingkungan, sebenarnya lebih kayak menghemat sampah dengan membawa alat makan sendiri, botol minum, dan bisa lebih peduli dengan kebersihan wilayah yang didatangi. Karena itulah, tur dari Lokali selalu membawa kantong sampah biar sekalian operasi semut memunguti sampah yang kebetulan ditemui di jalan.

Untuk unsur sosialnya, pastikan dalam perjalanan ini lo benar-benar ketemu sama orang lokal, sehingga lo bisa tahu kondisi orang lokal senyatanya seperti apa.

Bagaimana tanggapan mereka dengan kehadiran wisatawan? Di beberapa wilayah, ada kesenjangan sosial tinggi antara wisatawan dan warga lokal. Misalnya, ketika wisatawan foya-foya, padahal warga lokal di daerah tersebut masih berada di garis kemiskinan.

Kehadiran lo sebagai pengunjung bisa mengecilkan jarak tersebut, baik secara sosial dan budaya. “Sebisa mungkin tetap memperhatikan kearifan-kearifan lokal dan mengikuti aturan yang ada di tempat destinasi yang lo datangi,” saran Zakiy. Intinya, Zakiy dan tim Lokali menyarankan untuk melakukan perjalanan secara bertanggung jawab, dan jangan sampai apa yang kita lakukan untuk kesenangan memberikan dampak buruk pada penduduk setempat.

Kalau lo tertarik untuk ikutan di salah satu trip seru bareng Lokali, cobain aja pantengin Instagram-nya di @lokali.id ya!

 

Pemuda Sinarmas: 15 Menit Pertama Masa Krusial untuk Silent Koplo

Thu, 05 March 2020
Pemuda Sinarmas sedang berada dibelakang DJ booth MLDSPOT Art & Sound Experience

Selama tiga hari pagelaran Jakarta International Java Jazz Festival 2020, ada satu tempat yang menyajikan penampilan paling berbeda. Lokasi yang terletak di sisi luar ini bernama MLDSPOT Art and Sound Experience. Sebuah tempat yang menawarkan pengalaman baru menikmati musik dengan “diam-diam” di saat panggung satu dan yang lainnya bersaut-sautan dengan dentuman musik bervolume keras.

Player yang menyajikan musik Silent Koplo ini adalah Pemuda Sinarmas. Ia mengaku baru pertama kali melakukan penampilan dengan cara Silent Koplo. Untungnya Ajis, begitu ia akrab disapa, mendapatkan tempat bermain yang mendukung dan membangun mood pengunjung jadi lebih nyaman menikmat musik Silent Koplo.

Namun environment lokasi Art and Sound ini akan menjadi sia-sia bila Ajis gagal menyajikan playlist yang kurang asik. “Vibenya pas di booth ini orang datang dan pergi, gua harus ngatur playlist, datang pertama vibenya harus koplo santai dulu,kata Ajis saat ditemui usai penampilannya di hari ketiga.

Bagi Ajis tantangan main untuk Silent Koplo adalah harus menyiasati playlist dengan tepat agar orang tetap stay dengan headset-nya. “Kuncinya gua buat nyaman diri gua sendiri dengan playlist, ngebangun mood pelan-pelan. Sejam sih cukup. Yang krusial itu 15 menit pertama, ketika mainin 2-3 lagu, dan lagu pertama itu paling krusial. Untungnya gua ga main sm DJ lain, jadi ga perlu perhatiin dia bawain lagu apa, ini bisa ngebangun mood gua sendiri. Gimmick awal gua tetap sajikan musik yang punya kultur jazz, ini tantangan baru buat gua dan bisa berhasil 90%,ujar Ajis.

Pengunjung Java Jazz Festival 2020 menggunakan headphone di booth MLDSPOT Art & Sound Experience

Selain itu, hal yang terpenting adalah ia harus merespon flow audience yang datang, “karena di Java Jazz Festival gua harus buat mereka nyaman dengan musik-musik yang punya kultur Jazz juga, untungnya gua punya databased kaset Beatles yang dangdut, dari tahun sekitar 80-an. Kalau langsung bpm (tempo musik ) tinggi mereka pasti langsung kabur, beat santai yang punya alunan saksofon dan dentuman kendang itu bisa bikin pengunjung stay, setelah itu baru gua naikin bpm dengan playlist yang funky sesuai booth ini,” kata Ajis yang pernah datang ke acara Silent Disco.

 

BUKAN DJ IDEALIS

Belakangan koplo memang menjadi musik yang paling diminati untuk pengalaman seru-seruan bersama teman bernyanyi dan berjoget bersama. Namun Ajis punya pandangan lain.

“Koplo ini hanya tren aja, gua dulu mainin disko ketika itu gua masukin funky kota dan koplo, lalu saat ini boom koplo. Tantangannya bagaimana kita terus memutarkan roda tren itu. Gua menyadari bahwa bermain musik di elektronik sebisa mungkin bisa disesuaikan dengan tren,”

Sebelum bermain koplo dan disko, dahulu Ajis memulai karier Pemuda Sinarmas dengan memainkan lagu-lagu reggae sampai akhirnya ia kesulitan mencari kasetnya.

Ga selamanya kuping orang kuat dengan musik koplo, bakal jengah pasti.

Gua menyadari bukan DJ yang idealis, gua masukin beragam genre malah di performance gua, tujuannya untuk kasih tau kalau musik Indonesia itu tuh banyak banget. Gua nggak mau terpaku dengan satu genre dan satu identitas kalau Ajis itu DJ anu. Kadang gua mainin etnik juga, lagu Sunda, Banyuwangi, sampai Sumatera. Biar ga stuck dan bisa berkembang,” ujar Ajis.

4 orang pemuda menggunakan headphone di MLDSPOT Art & Sound Experience

Dalam kesempatan yang sama, Ajis meramalkan nantinya orang-orang pasca kelelahan telinganya dengan musik koplo akan balik ke genre house dan RNB, “RNB ga bakal mati. Disko selalu ada dan stabil. Kalau kople belum tentu, waktu gua main di Surabaya gua dilarang mainin koplo. Karena koplo itu udah kulturnya di sana dan mungkin mereka bosen. Tapi sekarang sedang jadi tren di ibu kota,” tutup Ajis.