Tren sarapan rebusan atau sarapan kukusan sehat berkembang cepat lewat media sosial dan kini mudah ditemui di berbagai kota besar.
Belakangan ini, menu sederhana seperti pisang rebus, singkong, talas, jagung, atau ubi kukus menjadi pilihan sarapan, terutama di kalangan anak muda dan pekerja kantoran.
Dorongan hidup sehat jadi salah satu alasan kuat. Banyak orang mulai mengurangi sarapan berat atau gorengan dan mencari sesuatu yang lebih ringan, praktis, dan tetap mengenyangkan. Rebusan dianggap memenuhi kebutuhan itu karena murah, cepat didapat, dan nyaman di perut saat pagi hari.
Sebenarnya, kacang rebus, edamame, jagung rebus, atau ubi rebus sudah lama ada, tapi biasanya dijual terpisah dan lebih banyak muncul pada sore hingga malam hari. Tren sarapan kukusan ini berbeda karena semua pilihan itu digabung dalam satu gerobak dan khusus dijual pagi hari sebagai paket sarapan.
Baca juga: Kenapa Lo Harus Jalan Kaki 10.000 Langkah?

Photo by @infowongkaranganyar.iwk
Di Palembang, seorang penjual bernama Afrianti menceritakan kepada RRI bahwa ia mengganti menu dagangannya dari gorengan ke rebusan setelah melihat makin banyak pekerja yang ingin menjalani pola makan lebih sehat.
Sementara itu, laporan detikHealth menunjukkan tren serupa di kawasan Stasiun Sudirman, Jakarta, titik ramai pengguna KRL. Penjual bernama Alaibi bahkan menyebut dagangannya sering habis sebelum pukul 09.00, dan kini sudah membuka beberapa titik jual.
Mayoritas pembeli kukusan Alaibi adalah pekerja kantoran yang membutuhkan sarapan cepat dan tidak berat, serta Gen Z yang sedang mencoba defisit kalori atau ingin menjaga pola makan.
Sarapan kukusan dianggap lebih nyaman untuk memulai hari. Pengguna KRL juga mengandalkan menu kukusan karena mudah dimakan sambil jalan atau menunggu kereta.
Baca juga: Susah Fokus Abis Makan Siang?

Photo by @roti_array
Isi sarapan kukusan umumnya sederhana tapi variatif. Satu porsi biasanya berisi tiga sampai empat pilihan bahan seperti ubi kuning, singkong, pisang kepok, talas, labu kuning, jagung manis, kacang tanah, edamame, sukun, atau telur. Harganya berkisar dari Rp5.000 di Palembang hingga sekitar Rp10.000 di kawasan Sudirman.
Tren ini juga mendapat perhatian dari Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang mengapresiasi pilihan sarapan kukusan karena selaras dengan kampanye pola makan sehat. Menu rebusan dinilai cocok sebagai opsi real food yang rendah minyak, mudah dicerna, dan tetap kaya nutrisi.
Keunggulan sarapan kukusan memang terkait cara pengolahannya yang tidak memakai minyak sehingga lebih rendah lemak dan kalori dibandingkan makanan gorengan.
Umbi dan buah kukus juga memiliki serat tinggi yang membantu rasa kenyang bertahan lebih lama. Selain itu, vitamin dan mineral, terutama vitamin B dan C, lebih terjaga ketika bahan makanan dikukus.
Beberapa bahan pun punya nilai gizi khusus, seperti beta-karoten dalam ubi dan labu, vitamin B kompleks pada jagung, serta protein nabati dari edamame.
Dengan kebutuhan sarapan sehat, cepat, dan terjangkau yang masih tinggi, tren sarapan rebusan atau kukusan diperkirakan akan tetap bertahan dan mungkin berkembang menjadi pilihan utama di berbagai titik mobilitas masyarakat. Lo udah pernah cobain sarapan kukusan ini?



Comments