Trending

7 Highlight Karya Seni Kebanggaan di ARTJOG 2019

Perhelatan seni ARTJOG kembali digelar di Jogja National Museum hingga tanggal 25 Agustus 2019. Seperti penyelenggaraan di tahun-tahun sebelumnya, festival seni kontemporer yang diikuti 40 seniman dari dalam dan luar negeri ini selalu menarik perhatian pengunjung. Pajangan karyanya nggak pernah monoton, selalu menampilkan warna, cerita, dan makna baru.

Perhelatan ARTJOG ke-12 mengusung tajuk kuratorial common spaces melalui karya-karya yang bercerita tentang ruang bersama di dalam kehidupan sehari-hari. Selain pameran, ARTJOG 2019 juga mengadakan beberapa program edukasi, seperti Meet the Artist dan Curatorial Tour. Ada juga program baru yang menyajikan wicara seniman (artist talk) secara performatif.

Penasaran ada karya seni apa saja yang bisa lo lihat? Cek aja langsung 7 highlight karya seni di ARTJOG yang nggak boleh dilewatkan!

1 . Whirlwind of Time Karya Andrita Yuniza Orbandi

Whirlwind of Time Karya Andrita Yuniza Orbandi

Pada gelaran ARTJOG 2019, Andrita menampilkan karya instalasi yang terbuat dari ratusan dahan dan batang ranting yang ditebang dan terbuang. Sebelum menjadi limbah, dahan dan ranting ini adalah bagian dari ekosistem alam yang mendukung kehidupan organisme lain, terutama binatang dan manusia.

Terinspirasi dari buku yang ditulis oleh Haruki Murakami, Andrita kemudian membangun struktur karya utamanya dengan mengadopsi bentuk pusaran angin puyuh. Di tengah-tengah pusaran tersebut, terdapat sebuah tunas kecil yang masih hijau. Instalasi badai ini menggambarkan bahwa tekanan dalam kehidupan manusia sesungguhnya sering disebabkan oleh tindakan dan pikiran mereka sendiri.

2. Daun Khatulistiwa Karya Teguh Ostenrik

Daun Khatulistiwa Karya Teguh Ostenrik

Instalasi Daun Khatulistiwa merupakan salah satu yang paling sering diabadikan pengunjung ARTJOG 2019. Sebagai seniman, sebagian besar karya Teguh Ostenrik berangkat dari kepeduliannya pada lingkungan hidup. Kegemarannya menyelam mendorongnya membuat karya seni instalasi di dalam air.

Daun Khatulistiwa yang tampil dalam pameran kali ini rencananya akan diceburkan ke wilayah pantai Ternate. Serupa kubah, patung ini terbangun atas modul kerangka besi yang bentuk dasarnya dikembangkan dari anatomi daun jati. Bagi Teguh, proyek ini hanyalah upaya kecil untuk merintis kesenian yang berkontribusi langsung pada pelestarian alam.

3. Artificial Green by Nature Green Karya Bagus Pandega dan Kei Imazu

Artificial Green by Nature Green Karya Bagus Pandega dan Kei Imazu

Karya seni buatan Bagus dan Kei mencoba menghadirkan fenomena perubahan iklim global. Dalam riset yang mereka lakukan, salah satu penyebab perubahan iklim adalah karena adanya penebangan pohon secara massal yang terjadi di Indonesia.

Instalasi Bagus dan Kei dilengkapi dengan perangkat mesin lukis. Gerakan dan kinerjanya dipicu oleh kondisi tumbuhan kelapa sawit yang dihadirkan di ruang pamer. Perangkat elektronis modular membaca arus listrik organik yang bekerja dalam tumbuhan tersebut dan memprosesnya menjadi sebuah sinyal yang mengatur mesin lukis. Instalasi yang sungguh unik dan canggih di saat yang sama!

4. NonsTop Karya Robert dan Olga

NonsTop Karya Robert dan Olga

Instalasi yang terdiri dari pakaian dan boneka ini merupakan bentuk relasi kuasa yang kerap dijumpai di lingkungan sosial. Sebuah pepatah kuno mengatakan bahwa hidup ada kalanya di atas, ada juga kalanya di bawah. Kondisi inilah yang digambarkan melalui tumpukan dan lapisan pakaian, kain perca, yang saling membalut satu sama lain. Robert dan Olga menegaskan bahwa hanya ada satu yang tetap berada di posisi paling atas, yaitu Ketuhanan.

5. You Never Know Karya Elisabeth Schimana dan Hillevi Munthe

You Never Know Karya Elisabeth Schimana dan Hillevi Munthe

Karya ini bertolak dari gagasan gerakan yang terjadi di ruang privat dan intim. Bagaimana sebuah ruang intim dapat bergerak secara konstan dalam ruang bersama. Karya “You Never Know” menghadirkan sensasi ruang privat dan keintiman melalui pengalaman sensorik dengan menampilkan elemen audio visual.

6. Tumpuk Lapis Tampak Isi Karya Fika Ria Santika

Tumpuk Lapis Tampak Isi Karya Fika Ria Santika

Bagi Fika, karyanya yang berjudul “Tumpuk Lapis Tampak Isi” adalah proses mempresentasikan alam sebagai salah satu cara memaknai kedalaman dan keleluasaan maknanya. Karya Fika menggunakan bahan alami dan buatan dengan kontras yang sengaja ditampilkan. Menggunakan plastik, felt dan batu, Fika bermain dengan elemen-elemen rupa seperti garis, warna, cahaya dan bayangan.

7. Garam Di laut Asam Di Gunung Bertemu Dalam Belanga Juga Karya Etza Meisyara

Garam Di laut Asam Di Gunung Bertemu Dalam Belanga Juga Karya Etza Meisyara

Secara mendasar karya Etza Maisyara merupakan pencarian bentuk komunikasi dalam alam semesta, beserta segala mitos dan faktanya. Alam semesta selalu memiliki bunyi dan keheningan tersendiri yang memberikan sinyal terjadinya sesuatu. Gemuruh sebelum hujan besar; pekik hewan sebelum terjadinya gunung meletus; desir angin ketika musim kemarau tiba; Semua itu adalah sinyal bagi manusia untuk lebih peka dalam membaca setiap tanda alam. Etza percaya bahwa intersubjektivitas alam dan manusia dapat menghindarkan manusia dari segala bentuk energi negatif.

Dengan banyaknya karya seni yang menggugah, apa lagi yang lo tunggu, Urbaners? Buruan datang ke ARTJOG 2019 dan saksikan langsung karya seni kontemporer dari para seniman berbakat. Perhelatan ini cuma dilangsungkan hingga 25 Agustus lho. Jangan sampai ketinggalan, ya!