• Buzz
  • Fakta Tentang Ngopi di Kafe

Fakta Tentang Ngopi di Kafe

Fri, 19 February 2016

Urbaners, coba lo perhatikan di kota tempat tinggal lo, sekarang banyak banget kafe baru yang berdiri. Tema atmosfer yang disuguhkan pun bermacam-macam, mulai dari menggabungkan kopi dengan buku, bangunan yang banyak terbuat dari kaca, dan lain sebagainya. Menariknya, kafe-kafe tersebut nggak pernah sepi pengunjung. Datang sendiri maupun ramai-ramai, kopi menjadi salah satu menu yang paling sering dipesan. Dan tren ngopi di kafe ini telah meningkat selama beberapa waktu belakangan ini.

 

Ngopi di Kafe Sebagai Gaya Hidup

Ketika mendirikan suatu kafe, pemilik pasti memiliki target khusus yang ditujukan pada konsumen mereka. Kafe A mungkin didirikan sebagai tempat nongkrong anak muda, sedangkan kafe B lebih cocok digunakan untuk tempat meeting para karyawan. Tetapi, ketika lo masuk ke salah satu kafe terdekat, pengunjung yang hadir justru nggak mengenal umur. Lo bakal disuguhi dengan “backsound” obrolan orang-orang yang saling bersahutan satu sama lain.

Seperti yang dilansir oleh situs antaranews, seorang pengamat sosiologi bernama Abdul Kholek mengatakan bahwa Indonesia tengah mengalami perubahan gaya hidup akibat perkembangan industri pangan dalam bentuk kafe dan restauran siap saji. Ada perasaan berbeda ketika lo memasuki kafe yang identik dengan kata elit. Nggak cuma ngopi, sebetulnya lo telah membeli pencitraan gaya hidup yang udah digembar-gemborkan melalui berbagai media massa dan internet.

 

Meningkatnya Konsumsi Kopi

Meski ngopi di kafe cenderung diidentikkan dengan perilaku konsumtif, namun tren tersebut membawa keuntungan tersendiri bagi para produsen kopi. Pada tahun 2014, konsumsi kopi di Indonesia meningkat hingga 6-8% per tahun. Bayu Krisnamurthi, Wakil Menteri Perdagangan Indonesia, bahkan memprediksi bahwa konsumsi kopi domestik bisa mencapi 300.000 dalam setiap tahun. Hal tersebut pun menjadi peluang yang cukup besar bagi produsen kopi dalam negeri.

Sebenarnya, peningkatan konsumsi kopi di Indonesia ini nggak terlalu mengherankan. Dunia internasional telah lebih dulu mengalami fenomena serupa, terutama di negara-negara pengekspor dan pengimpor kopi seperti Italian dan Amerika Serikat. Konsumsi kopi di kedua negara tersebut bahkan meningkat dua kali lebih cepat. Akibatnya, produksi biji kopi pun mengalami kenaikan pada pasar hingga mencapai angka 75% karena permintaan yang tinggi.

Sah-sah aja, kok, kalau lo mengikuti tren ngopi di kafe ini, Urbaners. Tetapi, jangan memaksakan diri apabila kondisi keuangan lo sedang nggak mencukupi. Seperti yang udah disinggung di atas, ngopi di kafe memicu lo untuk menerapkan perilaku konsumtif. Jadi, pertimbangkan banyak hal sebelum lo memutuskan untuk mengikuti tren ini.

Baca Juga : 7 Cara Membuat Kopi Susu yang Enak di Pagi Hari

 

Source: okezone.com, antaranews.com, www.whyimcray.com

Inspirasi Dari Fumio Sasaki: Menjadikan Minimalis Sebagai Lifestyle!

Tue, 22 September 2020
tren hidup minimalis dari Fumio Sasaki

Bro, apa lo tahu kalau di Jepang ada keresahan yang sepertinya bisa jadi masalah juga di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta. Keresahan tersebut adalah keterbatasan ruang dan lahan. Ini akan jadi masalah yang serius ketika lo suka mengumpulkan barang dan membutuhkan ruang yang lebih luas lagi.

Padahal bisa jadi rumah atau lahan yang lo punya sudah cukup luas, tapi karena banyak barang yang terus berdatangan dan ada saja yang lo beli, lo jadi merasa tinggal di rumah atau lahan yang sempit. Untuk menjawab hal ini, ada sebuah teori yang menarik, bro.

Teori yang menarik itu namanya teori minimalisme. Nah di bahasan kali ini, lo akan diajak berkenalan dengan orang Jepang yang sudah menerapkan teori ini menjadi lifestyle sehari-hari – kenalkan bro, ini Fumio Sasaki.

Kalau ditelisik lebih dalam, sebenarnya yang menerapkan minimalisme tidak hanya Fumio saja, lho. Sebelumnya sudah ada Marie Kondo yang mendapatkan kebahagian dari beres-beres rumah. Nah, Fumio ini menerapkan minimalisme langsung di kehidupannya, seperti apa jadinya ya?

 

Mengeliminasi Barang yang Tidak Lagi Digunakan

tren hidup minimalis dari Fumio Sasaki

Credit Image: kompasiana.com

Mungkin ini terjadi di hampir lo semua yang membaca artikel yang satu ini – apakah lo pernah punya ikatan batin dengan sebuah barang? Seperti sebenarnya lo sudah nggak butuh-butuh banget dengan barang itu, tapi tidak bisa lo buang begitu saja.

Misalnya barang-barang dikasih dari gebetan, pacar atau bahkan mantan – sebenarnya bisa saja barang-barang tersebut tidak terpakai dan akhirnya menumpuk begitu saja di pojok kamar. Kalau sama Fumio, ini sudah pasti dieliminasi karena sudah tidak digunakan lagi.

Menurut Fumio, mengeliminasi atau membuang barang yang tidak lagi berguna adalah salah satu cara untuk mendapakan esensi dari hidup minimalis. Kok bisa seperti itu ya? Jadi begini bro, awalnya Fumio adalah seorang laki-laki biasa yang sedang merasa tertekan di tempat pekerjaannya dan kurang percaya diri.

Lalu suatu hari, ia memutuskan untuk mengubah hidupnya dengan mengurangi barang-barang yang ia miliki. Dari pengurangan barang tersebut, ia merasa ada perubahan yang terjadi secara signifikan di dalam hidupnya. Fumio seperti merasakan kebebasan dan kedamaian sejati.

Semua hal yang ia lakukan, jika dilihat dari kuantitasnya, semua jadi lebih sedikit. Contohnya seperti berbelanja kebutuhan, ia hanya akan beli yang benar-benar akan dipakai saja. Dengan begini, ia tidak memikirkan barang lain yang sebenarnya tidak ia perlukan.

Waktu luang dari Fumio pun ia manfaatkan dengan cara bersih-bersih rumah. Dari sini, ia merasa lebih aktif, sehingga jadi memiliki waktu lebih dengan teman dan yang lainnya.

 

Menerapkan Konsep Zen

Fumio juga menerapkan konsep Zen sebagai salah satu pedoman hidupnya. Zen sendiri adalah sebuah gaya hidup sederhana yang mengutamakan keharmonisan tubuh dengan pikiran. Dengan prinsip ini, sesuatu yang tidak sempurna sengaja dibiarkan agar imajinasi yang bisa membuatnya jadi utuh.

Zen sendiri memberikan pemahaman bahwa kekosongan adalah jalan menuju kehidupan yang lebih baik lagi. Ruang kosong menjadi momen di mana lo bisa mengapresiasi sesuatu yang lebih penting daripada yang lain, yaitu hidup.

 

Bisa Prioritaskan Kebutuhan

tren hidup minimalis dari Fumio Sasaki

Credit Image: liputan6.com

Seperti yang sudah sempat disebutkan sebelumnya kalau minimalisme akan membuat lo tersadarkan betul kalau kebutuhan lo sebenarnya tidak begitu banyak. Kebutuhan premier, ya – lo bisa memprioritaskan kebutuhan yang penting terlebih dahulu.

Di konsep minimalisme ini, lo tidak akan dibuat pusing dengan set fashion yang akan keluar dan lo perlu beli semua. Lo akan bisa menilai dengan sendirinya apakah lo perlu membeli barang tersebut atau tidak. Jika dirasa tidak akan lo gunakan sesuai fungsinya, mungkin lo tidak jadi beli barang itu.

Wah bagaimana nih bro? Fumio Sasaki sudah menganut gaya hidup minimalis yang cukup menarik nih lifestyle nya buat dicoba. Apakah lo ada ketertarikan untuk jadi kaya Fumio?

 

Feature Image – kreativv.com