Trending

Jelajah Gunung Bandung: Daki Ratusan Gunung Setapak Demi Setapak

Buat lo yang tinggal di daerah perkotaan dengan kesibukan padat dan bisingnya jalanan, pergi sejenak untuk menenangkan diri ke gunung bisa jadi pilihan weekend getaway menyenangkan. Keinginan itu pula yang melatarbelakangi terbentuknya komunitas Jelajah Gunung Bandung (JGB).

Lahirnya Jelajah Gunung Bandung dari Media Sosial

Anggota Jelajah Gunung Bandung saat pendakian

Sekumpulan orang dengan minat sama, yakni menjelajahi gunung, sepakat untuk mendirikan sebuah komunitas bernama Jelajah Gunung Bandung (JGB). Selain memiliki kesamaan hobi, awalnya komunitas ini juga terdiri dari orang-orang yang juga memiliki keterbatasan waktu karena pekerjaan selama weekday.

Jang Yudi, pendiri Jelajah Gunung Bandung, adalah pionir yang sering mengajak setiap orang untuk menjelajahi gunung-gunung di Bandung dan sekitarnya. Ajakan melalui media sosial Facebook tersebut menjadi cikal bakal terbentuknya grup JGB pada 14 Oktober 2010. Tanggal itu, kini telah ditetapkan sebagai hari lahirnya komunitas Jelajah Gunung Bandung.

“Saat itu, kegiatan penjelajahan yang dilakukan rata-rata satu hari pulang pergi atau paling lama dua hari satu malam. Alasannya, untuk memfasilitasi member yang rata-rata pekerja kantoran, nggak bisa ambil libur lama-lama,” ujar Abdul Malik, perwakilan dari Jelajah Gunung Bandung.

Dalam perjalanannya, Jelajah Gunung Bandung kemudian membentuk panitia untuk mengurusi kegiatan mereka. Pada tanggal 15 Oktober 2014, komunitas ini memiliki kepengurusan yang diresmikan bertepatan dengan peringatan hari jadi Jelajah Gunung Bandung ke-4 di Margahayu, Bandung.

Siapa Saja Boleh Gabung, Tanpa Syarat

Gathering ketujuh Jelajah Gunung Bandung

Jelajah Gunung Bandung ternyata nggak seperti komunitas lain yang menerapkan peraturan khusus untuk anggotanya.

“Sejauh ini, nggak ada aturan baku terkait keanggotaan, sih. Pada prinsipnya, Jelajah Gunung Bandung nggak membeda-bedakan juga siapa saja anggotanya. Komunitas ini berjalan secara kultural, maka siapapun yang mengenal dan tergabung dalam media komunikasi kami, baik itu grup Facebook, Instagram, dan media komunikasi lainnya, itu merupakan bagian dari Jelajah Gunung Bandung,” tutur Abdul.

Meskipun tanpa persyaratan khusus untuk bergabung, rupanya ada seleksi yang pasti bakalan dialami oleh anggota komunitas Jelajah Gunung Bandung. Abdul menuturkan bahwa seleksi mereka adalah seleksi alam. Maksudnya, ketertarikan pada kegiatan JGB sendiri merupakan seleksi utama bagi mereka yang ingin bergabung dengan komunitas pencinta alam tersebut.

Mengemban Jargon Sejarah, Lanskap, dan Budaya

Acara api unggun saat camping

Nggak cuma sebagai komunitas penjelajah gunung atau pecinta alam, JGB rupanya punya misi khusus, Urbaners! Mereka nggak sekedar menjelajahi gunung untuk berekreasi dan menikmati keindahan alam. Komunitas ini juga punya misi untuk mengeksplorasi sejarah, lanskap, dan budaya dari tempat-tempat yang ditujunya.

“Kami selalu berusaha untuk bersama-sama menjaga dan meminimalisir dampak negatif dari kegiatan yang dilakukan. Selain kegiatan penjelajahan, kami juga aktif melakukan kajian literasi, sharing bareng, dan mengadakan workshop yang berkaitan dengan gunung serta semua yang ada di sekitarnya. Hal itu termasuk kaitannya dengan sejarah, budaya, masyarakat, adat, dan tradisi,” ujar Abdul.

Sebagai komunitas dengan agenda terjadwal, JGB juga ingin hadir sebagai rumah bersama. Dalam rumah bersama inilah, para anggota dapat saling berbagi pengalaman, ilmu, dan mempererat rasa kebersamaan selagi mengembangkan wawasan.

Telah Menjelajahi Hampir 700 Gunung

Perjalanan menjelajahi gunung

Jelajah Gunung Bandung memang nggak memiliki aturan formal, tapi untuk urusan kegiatan bareng, mereka rupanya cukup solid, lho. Terbukti dengan fakta bahwa komunitas JGB telah menjelajahi hampir 700 gunung yang semuanya terletak di wilayah Bandung Raya dan sekitarnya. Dari seluruh gunung yang telah dijelajahi, komunitas JGB rupanya nggak punya gunung favorit.

“Kalau diminta memilih gunung mana yang paling menarik atau direkomendasikan, kami kayaknya nggak punya jawaban untuk pertanyaan tersebut. Soalnya, semua itu kembali pada ketertarikan pribadi, subjektif bangetlah kalau urusan itu. Setiap penggiat alam atau penjelajah memiliki sudut pandang berbeda. Lagipula, memang setiap gunung tentunya memiliki daya tariknya sendiri,” jelas Abdul.

Kalau saran untuk pemula, Abdul sebagai anggota lama JGB punya rekomendasi, nih. Jika mengacu pada kondisi medan, jarak tempuh, dan akses menuju gunung, Abdul merokemendasikan Gunung Manglayang, Gunung Putri, Gunung Palasari, dan Gunung Geulis.

Proyek Jelajah Gunung Bandung, Sumbangan Bagi Ilmu Pengetahuan

Salah satu kegiatan workshop yang diadakan Jelajah Gunung Bandung

Komunitas Jelajah Gunung Bandung emang nggak mau membatasi diri, Urbaners. Mereka juga ingin berkontribusi. Biar nggak cuma kumpul-kumpul dan jelajah doang, JGB lagi punya proyek menarik!

Mereka mengaku kalau saat ini sedang menyusun Ekspedisi Ensiklopedi Gunung Bandung, sebuah buku yang harapannya bisa menjadi panduan dan sumber pengetahuan tentang kondisi alam, sejarah, serta kondisi sosial masyarakat yang tinggal di wilayah gunung-gunung Bandung.

“Saat ini masih dalam progress, kami sedang melakukan dokumentasi gunung-gunung di daerah Bandung Raya dan sekitarnya sebagai referensi relevan bagi para petualang yang ingin menjelajahi wilayah tersebut. Teknisnya sih, kami melakukan pencatatan jalur pendakian, data sejarah, budaya berupa mitologi, topografi gunung-gunung di daerah Bandung Raya. Semua itu akan dibukukan dalam sebuah ensiklopedia,” tutur Abdul.

Jadi, buat Urbaners yang pengen refreshing sambil menambah pengetahuan soal lingkungan, sejarah, dan budaya, cocok nih buat gabung di komunitas JGB. Buat tahu lebih banyak tentang kegiatan mereka, Urbaners bisa cek akun Instagram @gunungbandung, ya!