• Buzz
  • Lincah Berbahasa Asing dengan Polyglot Indonesia

Lincah Berbahasa Asing dengan Polyglot Indonesia

Thu, 16 May 2019
Lincah Berbahasa Asing dengan Polyglot Indonesia

Urbaners, untuk bisa mempelajari bahasa asing dengan baik, tentu lo harus punya ruang untuk praktek. Kalau cuma belajar teori, kapan lo bisa fasih bercakap-cakap dengan bahasa Spanyol, Mandarin, sampai Jerman? Karena itulah, lo wajib nih kenalan sama Polyglot Indonesia, komunitas yang mau membuktikan kalau belajar bahasa asing itu mudah dan menyenangkan. Sering ngumpul bareng mereka bakal bikin lo makin lincah dan fasih berbicara dengan bahasa asing. Yuk kenalan!

 

Hadir sebagai Wadah Temen Ngobrol

Dalam memahami bahasa asing, setidaknya ada empat kemampuan yang harus lo kuasai, yaitu membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara. Nggak cuma belajar di tempat les atau di dalam kelas, lo juga harus rajin latihan dan praktek secara terus-menerus untuk menjaga konsistensi dan cakupan kosa kata. Sayangnya, seringkali nggak gampang menemukan temen yang bisa diajak ngobrol untuk mempraktekkan kemampuan bahasa lo.

Alasan inilah yang melatarbelakangi terbentuknya Polyglot Indonesia, sebuah komunitas dimana para penggemar bahasa asing dapat berkumpul dan mempraktikkan bahasa yang dikuasainya. Pada tahun 2013, Arra’di Nur Rizal, Monis Pandhu Hapsari, dan Krisna Laurensius mendirikan komunitas ini sebagai wadah temen ngobrol, dimana anggotanya bisa berlatih bersama dengan cara yang fun.

Hadir sebagai Wadah Temen Ngobrol

Awalnya, komunitas Polyglot Indonesia bertujuan untuk saling mempertemukan orang-orang Indonesia yang sudah pernah atau sedang mempelajari bahasa asing untuk melatih kemampuan komunikasi dan menemukan lawan bicara. Nggak hanya itu, mereka juga menyambut orang asing di Indonesia yang sedang belajar bahasa Indonesia dan ingin berlatih dengan nyaman. Polyglot Indonesia ingin membuat safe space dan ruang belajar yang bebas, supaya lo nggak perlu merasa terintimidasi ketika melakukan kesalahan saat berbicara.

Kegiatan rutin yang dilakukan Polyglot Indonesia sejak tahun pertama adalah menggelar kegiatan Language Exchange Meet Up. Sampai saat ini, Polyglot Indonesia sudah melakukan pertemuan di enam kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Banda Aceh, dan Semarang. Pertemuan Exchange Meet Up biasanya dilakukan selama dua sampai tiga jam. Para anggota Polyglot dikelompokkan sesuai bahasa yang dikuasainya, lalu tiap kelompok mendiskusikan topik-topik tertentu yang dipandu oleh seorang koordinator bahasa.

“Saat ini ada beberapa kelompok yang kita miliki, mulai dari bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Spanyol, Arab, dan Jepang. Tapi kalau ada yang minta bahasa Korea bisa juga kita gabungkan,” ujar Mira Zakaria, Executive Directory Polyglot Indonesia.

Hadir sebagai Wadah Temen Ngobrol

Koordinator bahasa yang ditunjuk Polyglot Indonesia bukan sembarang orang, Urbaners. Setidaknya, koordinator bahasa harus menguasai tiga sampai empat bahasa asing di luar bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Bahkan, ada satu orang koordinator bahasa yang mampu menguasai sebelas bahasa. Wah, inspiring banget ya!

Walaupun sudah mahir, bukan berarti anggota Polyglot berhenti berlatih. “Pada dasarnya, kemampuan berbahasa asing itu harus selalu dilatih. Kalau tidak digunakan, lama-lama kemampuan bahasa akan berkurang dan hilang. Sayang banget kan, udah capek belajarnya, lalu hanya karena tidak dipraktekkan, lalu harus mengulang dari dasar lagi,” ungkap Mira.

 

Sering Adakan Kopi Darat Dan Diskusi

Penggemar bahasa asing di Indonesia cukup banyak lho, Urbaners. Pengurus Polyglot mengaku bahwa semakin banyak orang yang menyadari pentingnya belajar bahasa asing selain Inggris. Seiring dengan adanya media sosial, Polyglot juga semakin mudah untuk menjangkau anggota baru. Hingga April 2019, komunitas ini sudah memiliki 9500 followers di Instagram, 6400 followers di Twitter, 17.000 followers di Facebook fanpage, dan 21.200 member di Facebook discussion group.

Sering Adakan Kopi Darat Dan Diskusi

Sebagai organisasi non-profit, Polyglot Indonesia sering mengadakan pertemuan yang fun tapi produktif. “Kita sering melakukan kopi darat (kopdar) untuk sekedar berkumpul atau nonton festival film di pusat kebudayaan, dan melakukan presentasi-presentasi,” ungkap Mira yang fasih berbahasa Jerman, Inggris dan Perancis ini. Untuk belajar bahasa, anggota Polyglot nggak hanya bercakap-cakap, tapi juga bermain game, membaca puisi, buku, melatih public speaking, dan sebagainya. Dengan begitu, para anggota akan semakin lincah menggunakan bahasa asing dan memperkaya kosa kata mereka.

 

Merangkul Semua Orang

Merangkul Semua Orang

Komunitas Polyglot Indonesia punya tiga segmen kelompok utama. Kelompok pertama adalah orang-orang yang pernah belajar bahasa di luar negeri, supaya mereka tetap bisa mempraktekkan bahasa yang pernah mereka kuasai. Kelompok kedua adalah orang asing yang ingin mempraktekkan bahasa Indonesia mereka. Kelompok Ketiga adalah orang-orang yang ingin atau sedang mempelajari bahasa asing, dan mencari lawan bicara untuk berlatih. Latar belakang anggotanya sangat beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa, interpreter, dosen, karyawan, sampai aktivis LSM.

Polyglot Indonesia juga berkomunikasi intens dengan komunitas polyglot lain di berbagai negara. Sebagai sesama polyglot, mereka sama-sama merasakan pentingnya kehadiran komunitas seperti ini untuk melatih bahasa yang sudah dikuasai. Nggak jarang juga, pertemuan di komunitas berubah menjadi pertemanan yang bertahan bertahun-tahun lho, Urbaners.

 

Bahasa adalah Media Berkomunikasi

Nggak bisa dipungkiri, kemampuan bahasa asing semakin diperlukan, terutama di era globalisasi ini. Saat kita bertemu dengan orang asing dan kita bisa berbicara dengan bahasa yang mereka gunakan, maka orang tersebut akan lebih nyaman untuk berdiskusi dengan kita. Kemampuan bahasa asing juga berguna banget buat lo yang pingin mengembangkan karir di perusahaan multinasional, atau bersekolah di luar negeri.

“Kami percaya, bahwa tidak ada jalan pintas untuk menguasai bahasa asing, kecuali dengan berlatih. Karena itu, kita harus sesering mungkin berlatih. Tapi, biar nggak bosan, cara latihan harus bervariasi. Kalau ada teman atau lawan bicara, pasti kita akan makin semangat untuk belajar dan improve,” kata Mira yang tumbuh besar di Austria.

Mengapa Penting Pakai Masker di Luar Rumah Selama Pandemi

Thu, 28 May 2020
Seorang pria berjaket hitam sedang memakai masker bedah ketika berada di luar

Ketika COVID-19 melanda, banyak orang yang mulai mencari masker, bahkan nggak sedikit yang dengan sengaja menyetok masker secara berlebihan. Tujuannya pun beragam, mulai dari dijual lagi dengan harga tinggi hingga disimpan demi tujuan pribadi.

Saat ini, ada beberapa jenis masker yang bisa lo gunakan, dua di antaranya adalah masker bedah dan masker kain. Pastikan untuk terus menggunakan masker ketika lo pergi keluar rumah selama pandemi ini, ya, Bro!

 

Cara Penyebaran Virus Corona

Ilustrasi droplet dan virus corona yang keluar ketika seseorang sedang bersin

Pandemi COVID-19 disebabkan oleh virus corona yang dapat dengan mudah tersebar dan menginfeksi manusia. Dilansir dari WHO, virus corona tersebar melalui droplets air liur yang keluar dari tubuh saat bersin, batuk, atau pilek. Beberapa gejala utama dari orang yang terinfeksi virus ini antara lain demam, hidung tersumbat, batuk kering, hingga kesulitan untuk bernafas.

Karena dapat dengan mudah menular dari droplets air liur saat bersin atau batuk, maka penting buat lo untuk mengenakan masker ketika bepergian. Baik saat lo merasa sakit atau sehat, penggunaan masker dan penerapan social distancing akan sangat berpengaruh bagi kesehatan lo sekaligus orang-orang di sekitar lo.

 

Mengurangi Risiko Penyebaran

Seorang wanita berpakaian hitam sedang mengenakan masker, bersiap untuk keluar dari rumah

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, manfaat utama dari pemakaian masker saat berada di luar rumah adalah untuk mengurangi risiko penyebaran. Droplets yang keluar dari tubuh lo nggak akan menyebar luas saat lo memakai masker. Hal yang sama juga berlaku bagi orang lain. Saat lo memakai masker, secara nggak langsung lo juga melindungi area wajah dari paparan virus.

Kenapa sih lo tetap harus pakai masker meski lo merasa sehat-sehat saja? Hal ini karena ditemukan beberapa kasus di mana orang yang terinfeksi virus corona tidak mengalami gejala apapun, dikenal sebagai asimtomatik. Ketika lo memutuskan untuk nggak memakai masker saat bepergian, lo sudah membahayakan diri lo sendiri serta banyak orang.

 

Bentuk Solidaritas

Tiga orang pekerja rumah sakit mengenakan masker N95 di depan pintu masuk

Muncul banyak stigma saat melihat orang memakai masker di luar rumah. Ada orang yang langsung menghindar karena menganggap orang tersebut sakit, ada juga yang menghargai keputusan tersebut. Sebetulnya, saat lo memakai masker, lo sedang menunjukkan bentuk solidaritas terhadap kemanusiaan. Lo ikut berperan dalam memutus mata rantai virus, bertanggung jawab atas kesehatan lo dan orang lain.

Mencegah jauh lebih baik dari mengobati. Apalagi melihat para pekerja di rumah sakit yang banting tulang dan menjadi garda terdepan dalam melawan virus mematikan ini. Memakai masker ketika bepergian adalah langkah kecil bagi kita semua untuk pay respect kepada mereka yang sedang bertugas, sekaligus bentuk perlawanan untuk COVID-19.

 

Pemakaian Masker yang Efektif

Empat buah masker kain sedang dijemur setelah dicuci

Pakai masker saja nggak cukup, lo harus tau tata cara pemakaian masker yang baik dan benar. Ada beberapa jenis masker yang tersedia dengan kegunaan masing-masing. Masker N95 dikhususkan bagi para pekerja rumah sakit yang melakukan kontak langsung dengan pasien virus corona.

Bagi khalayak umum, dianjurkan memakai masker bedah dan masker kain. Bagi lo yang memakai masker bedah, ingat ya bahwa masker tersebut hanya untuk sekali pakai. Sedangkan masker kain harus dicuci setiap pemakaian dengan air panas dan sabun. Jaga agar masker selalu bersih ketika dipakai agar efektivitasnya tetap terjaga.

 

 

 

 

 

Sources: The New Yorker, Click Orlando, WHO