Wayang Beber Metropolitan, Tanggap Wayang Secara Kekinian

Siapa bilang wayang itu kuno? Wayang adalah cerita tradisional yang menjadi warisan budaya Indonesia. Hingga kini, wayang sering dijadikan media untuk mengungkapkan kritik sosial atau ajakan untuk berbuat baik. Untuk melestarikan budaya tersebut, ada komunitas Wayang Beber Metropolitan yang membawakan cerita-cerita wayang dengan pentas yang kekinian. Komunitas pencinta wayang ini ingin membawa wayang lebih dekat dengan generasi muda.

“Cerita yang kami bawa adalah cerita-cerita hari ini, fenomena-fenomena sosial yang sering terjadi di lingkungan kita. Dan Wayang Beber Metropolitan adalah medium untuk membaca situasi sekarang, berefleksi melalui akar tradisi wayang,” jelas Samuel Santoso Adi Prasetyo, dalang dari Wayang Beber Metropolitan.

 

Lokalitas yang Dipahami Nusantara

Melestarikan wayang dengan medium kekinian supaya lebih mudah masuk ke generasi muda adalah konsep yang dibawakan oleh Wayang Beber Metropolitan

Apa yang ada di dalam pikiran lo saat mendengar wayang? Biasanya sih; pakai bahasa Jawa, alat musiknya tradisional dengan ritme yang lambat! Nah, si Wayang Beber Metropolitan menggebrak konsep tersebut dengan menggunakan bahasa tutur Indonesia.

“Wayang adalah budaya daerah yang dikenal nusantara, kalau dibawakan dengan bahasa Jawa, pasti akan ada banyak orang yang nggak memahaminya. Makanya, kami di Wayang Beber Metropolitan menggunakan bahasa Indonesia, supaya semua orang bisa paham,” tambah Samuel atau yang biasa disapa Mas Sam ini.

Nggak hanya dari segi bahasa, Wayang Beber Metropolitan juga mengkombinasikan hal-hal lain, seperti penggunaan wayang kulit. Kalau pementasan wayang biasanya hanya menggunakan kain yang “dibeberkan” alias dibentangkan, kemudian dalang menunjuk tokoh sambil bercerita.  Tapi di Wayang Beber Metropolitan, ada banyak modifikasi, salah satunya adalah penggunaan wayang yang terbuat dari sandal jepit. Alat musik pengiring dalang juga tergolong kekinian yaitu gitar dan biola.

 

Bawakan Cerita Kekinian

Alat musik yang digunakan kekinian sehingga lebih mudah diterima zaman

Tanggap wayang biasanya identik dengan cerita-cerita seperti Mahabharata atau Ramayana. Namun, Mas Sam dan teman-teman di Wayang Beber Metropolitan memilih untuk membawakan cerita-cerita kekinian. Misalnya saja, mereka bisa mementaskan topik wabah Covid-19 yang menjadi perbincangan hangat di seluruh dunia selama beberapa bulan terakhir.

Tanpa menyebut tentang penanganan pandemi di Indonesia, komunitas ini menyisipkan kritik sosial dengan mengibaratkannya sebagai Republik Poco-Poco. Sindiran cerdas yang dilengkapi dengan humor “berisi”, menjadi cara Wayang Beber Metropolitan membawakan suatu fenomena untuk dibedah bersama dan dijadikan bahan renungan. “Wayang Beber Metropolitan memang punya tujuan untuk memunculkan gerakan-gerakan baru, membongkar pola pikir, sekaligus sebagai pengingat,” jelas Mas Sam lagi.

Pentas Wayang Beber Metropolitan selalu menarik untuk disimak. Selain bisa mengandung kritik sosial, ada pula cerita yang edukatif, misalnya topik mengenai ketersediaan air. Sang dalang menceritakan bagaimana masyarakat bisa memaksimalkan penggunaan air hujan untuk memenuhi kebutuhan air di rumah tangga. “Saya sendiri menggunakan sistem penyulingan air hujan untuk memenuhi kebutuhan air di rumah. Jadi nggak perlu beli air lagi,” tambah Mas Sam.

Tema-tema kembali ke alam menjadi sentra topik yang diangkat Wayang Beber Metropolitan, selain juga isu-isu kemanusiaan. “Jadi kami memang nggak mengangkat cerita pewayangan lagi. Wayang Beber Metropolitan menggunakan wayang sebagai medium untuk menceritakan isu-isu yang lebih masuk ke era sekarang,” jelasnya.

 

Filosofi Kehidupan dari Wayang

Wayang Beber Metropolitan hadir untuk mengajak penonton berpikir kritis

Sebenarnya nih, kalau dikulik lebih dalam, bukan hanya cerita-cerita ataupun tema-tema pewayangan saja yang kaya akan filosofi kehidupan. Justru, filosofi kehidupan itu sendiri dimulai dari peralatan yang digunakan. Wayang Beber Metropolitan menggunakan batang pisang untuk menancapkan wayang, kulit kerbau sebagai bahan pembuatan wayang, yang semuanya mengingatkan pada konsep agraris Indonesia. “Wayang ini sebagai pengingat kalau Indonesia itu negara agraris dan sudah sewajarnya kita kembali lagi ke agraria,” kata Mas Sam.

“Kemudian konsep wayang itu sendiri yang sebenarnya adalah benda mati kemudian digerakkan dan memberikan inspirasi. Pertanyaannya, bagaimana dengan kita sendiri yang notabene adalah makhluk hidup. Apakah kita benar-benar hidup? Atau kita seolah hidup tapi sebenarnya di dalam kita mati?” tutur Mas Sam melontarkan renungan.

Kesadaran-kesadaran semacam ini menjadi dorongan buat Mas Sam dan teman-teman Wayang Beber Metropolitan untuk menghidupkan kembali kecintaan akan wayang dengan cara yang lebih kekinian. Itu jugalah kenapa Wayang Beber Metropolitan nggak menjadikan jumlah penonton sebagai patokan atau sesuatu yang ingin dikejar. Yang penting pesan tersampaikan dan “mencolek” pendengar untuk melakukan kontemplasi.

“Tontonan dan tuntunan, itulah yang ingin kami bawakan di Wayang Beber Metropolitan. Kalau hanya supaya penontonnya banyak, apa bedanya dengan sinetron?” kata Mas Sam. Berdiri sejak 2010, sampai sekarang Wayang Beber Metropolitan sudah pernah tanggap di beberapa tempat. Mulai dari Museum Wayang, Bentara Budaya Jakarta kampus, rumah belajar, komunitas, mall, dan ruang-ruang publik lainnya di Jakarta, Jawa Timur, dan Solo.

Biasanya komunitas ini akan mengadakan pentas sesuai permintaan. Tetapi karena kondisi pandemi corona saat ini, Wayang Beber Metropolitan tanggap secara online, ataupun kalau nggak tanggap, mereka rutin mengadakan diskusi via Instagram. Nah, buat lo yang ingin tahu lebih banyak mengenai kegiatan Wayang Beber Metropolitan, bisa langsung cek kegiatan mereka di @wayangbebermetropolitan, ya!