Kisah Arief Maulana Jadi Head Pastry Chef di Usia 24 Tahun

Belum genap berusia 25 tahun, Arief Maulana Ikhsan sudah menjabat sebagai Head Pastry Chef di salah satu toko roti ternama di Jakarta. Usut punya usut, ternyata sejak kuliah dulu, Arief sudah tertarik untuk bekerja di Beau Bakery, mulai dari profil sang founder Talita Setyadi sampai konsep dari toko roti itu sendiri.

Suatu hari, Arief menemukan lowongan menjadi Head Pastry Chef di tempat favoritnya itu. Siapa duga, ia diterima. “Awalnya saya hanya coba-coba, karena saya berpikir perusahaan mana sih yang mau menjadikan anak usia 24 tahun jadi Head Pastry Chef?” kenang Arief.

Yuk, kenalan lebih lanjut sama chef inspiratif ini! Bagaimana perjalanannya sebagai tokoh penting dalam pengembangan Beau Bakery?

 

Menyenangi Dunia Pastry Sejak Kecil

Asal muasal Arief menyukai dunia pastry ternyata sederhana banget, Bro! Dulu, tetangganya sering menerima pesanan kue bolu dan Arief kecil senang main ke rumah tetangga untuk ikut membantu. Dari yang awalnya hanya melihat-lihat, lama-lama Arief ikut memegang mixer dan akhirnya ikut membantu membuat bolu. Sejak kelas 4 SD, ia sudah terampil membuat bolu-bolu jadul, salah satunya bolu pisang.

Kesenangan akan dunia pastry nggak berhenti di situ. Arief memutuskan untuk benar-benar belajar secara profesional di SMK dan lanjut menekuni pastry di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung. “Kalau ditanya kenapa akhirnya memutuskan profesional mendalami pastry, bisa jadi selain karena sejak kecil senang bikin kue, ibu saya juga jago masak dan paling jago di masakan rumahan. Saya mikirnya, saya dan ibu bakal saling melengkapi. Misalnya, di masa depan saya bisa punya bakery dan sekaligus ada restoran buat masakan-masakan ibu,” jelas Arief yang membocorkan kalau resep pertama yang bikin jatuh cinta adalah roti mentega.

Keseriusan Arief semakin kentara sewaktu kuliah, dengan memutuskan ikut kompetisi International Cake Festival tahun 2013. “Dosen saya menawarkan kesempatan untuk ikut kompetisi, tapi tidak ada satu pun yang mendaftar. Akhirnya saya putuskan untuk mendaftar dan belajar agar bisa membuat kreasi kue baru yang unik dan kreatif,” ungkapnya.

Dari situ, Arief mulai ketagihan untuk menantang dirinya sendiri dengan mengikuti kompetisi-kompetisi lain, salah satunya Food & Hotel Asia Trade Show di Singapura pada tahun 2016. Saat itu, ia menjadi salah satu kontestan termuda karena baru lulus kuliah. Sementara pesaingnya mayoritas chef-chef yang telah berpengalaman.

 

Punya Kemauan Belajar dan Kreativitas Tinggi

Sejak kecil sudah suka membuat kue dan belajar dari tetangganya

Sebagai pastry chef, Arief nggak mau membatasi diri. Ia punya kemauan belajar tinggi atas dasar kecintaannya pada dunia pastry. Selain teknik-teknik baking biasa, Arief juga menekuni pembuatan ukiran coklat dan teknik sugar-blowing yang banyak dipakai untuk membuat kreasi makanan penutup kelas tinggi.

Kerja keras dan ketekunan Arief berbuah manis ketika ia bisa menyalurkan kemampuannya dengan bergabung ke tim Beau. Ketika mengawali karir sebagai Head Pastry Chef, ia mengaku khawatir nggak sanggup mengemban tugas dan tanggung jawab sebagai kepala pastry. Apalagi, Beau Bakery saat itu sudah punya nama besar dan menjadi favorit bagi para penduduk Jakarta.

Seiring berjalannya waktu, Arief mulai beradaptasi dengan profesi barunya. Menurutnya, hanya ada satu kunci yakni jangan gengsi untuk belajar dengan siapa pun untuk bisa menambah pengetahuan baru. “Kita bisa belajar dari siapa saja dan di mana saja. Makanya lo harus terbuka dengan segala kemungkinan. Bisa jadi si A punya sesuatu yang kita nggak tahu dan lo bisa mendapatkan pembelajaran dari si A,” terang Arief.

Bercerita soal tugas dan tanggung jawab di Beau, Arief mengatakan sebagai Head Pastry Chef ia wajib mengatur dan memantau jalannya produksi, menciptakan dan mencoba menu-menu baru, serta melakukan quality control agar semua kreasi pastry bisa dibuat dengan standar tertinggi.

 

Memberikan Rasa Lokal di Kreasi Beau

Memberikan sentuhan lokal untuk kue-kue di Beau

Sebagai informasi buat lo nih Bro, Beau adalah artisan bakery yang semua produknya dibuat secara handmade. Toko roti yang satu ini juga terkenal karena konsep sehatnya, yaitu tanpa pengawet dan bahan pewarna buatan. Jadi, kalau lo melihat di Beau ada kue warna-warni, semua kue tersebut dibuat menggunakan warna natural dari buah-buahan, lho. Dijamin fresh dan baik buat kesehatan lo, Bro!

Konsep Beau yang unik dibandingkan toko-toko roti lain memberikan tantangan tersendiri bagi Arief. Nggak hanya menyajikan dessert yang natural dan lebih sehat, ia juga harus ahli menghadirkan konsep entremet (kue pencuci mulut) yang modern dan stylish. Setelah hampir setahun Arief bergabung, ada warna baru yang diberikan lulusan Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung ini, yakni sentuhan rasa lokal.

“Saya suka banget dengan rasa lokal dan hobi melakukan kreasi yang aneh-aneh. Inilah tawaran yang saya bawa ke Beau. Nggak cuma kue dengan rasa universal, tim Beau udah pernah meluncurkan varian pastry kue sus isi kemangi, kue rasa klepon dan rasa kolak, sampai bomboloni alias donat yang isinya dawet,” ungkap Arief.

Berbagai kreasi unik di Beau Jakarta

Nggak hanya memberikan kreasi baru dalam bentuk pastry, Arief kerap membawa semangat berkompetisi untuk timnya. Tahun 2019, misalnya, Arief memberikan pelatihan buat dua tim dari Beau untuk berkompetisi di ajang SIAL InterFood 2019 dan tim Beau berhasil mendapatkan 1 medali perak dan perunggu untuk kategori Lived Plated Dessert pada kompetisi tersebut. Pada kompetisi yang sama, Arief mendapatkan medali perak untuk kategori “Junior Pastry Chef Challenge”. Kabarnya nih, di tempat bekerja sebelumnya, Arief pun berhasil meraih medali emas untuk kategori “Baker Chef Challenge” di SIAL InterFood 2018.

Wajar ya, Bro! Semenjak kuliah, Arief sudah sering berkompetisi dan kerap meraih beberapa penghargaan. Menurutnya, semangat berkompetisi sangatlah baik sebagai ajang belajar dan memecut diri untuk menjadi lebih maju dan lebih baik. Dengan mengikuti kompetisi, lo juga bisa melihat persaingan dunia yang sebenarnya di bidang yang lo tekuni.

Kompetisi buat Arief adalah medium untuk berlatih dan mempertajam intuisi akan kemampuan yang dimilikinya

Sebelum menutup percakapan Arief sempat mengatakan kalau buatnya, pastry itu memiliki filosofi mendalam. Setelah menekuni dunia pastry bertahun-tahun, ia selalu belajar tentang ketelitian dan kesabaran dalam menghasilkan karya pastry yang sempurna.

“Semua ada ukurannya, demikian juga dalam membuat kue. Bukan berarti banyak telur bisa lebih bagus, atau banyak susu jadi lebih enak, semua harus serba pas, nggak berlebihan, detail, dan diolah dengan kesabaran. Seperti kehidupan, ‘kan?” ungkapnya.

Menutup perbincangan, Arief berharap ia bisa terus belajar dan mengembangkan kemampuan di bidang pastry. Ia juga berencana untuk terus memberikan inspirasi dan ilmu-ilmunya, terutama melalui media sosial. Jadi, kalau lo penasaran dengan sepak terjang dan kreasi terbaru Chef Arief, langsung aja follow Instagram-nya di @le_arief, ya!