Tuan Tigabelas: Mulut Besar, Kaya Gizi - MLDSPOT

Tuan Tigabelas: Mulut Besar, Kaya Gizi

Fri, 20 March 2020
Mulut Besar, Kaya Gizi

Mulutnya besar, tapi punya dasar. Latar belakang yang kuat, terutama percaya pada lingkungan yang membantunya tumbuh serta tetap menjejak bumi adalah rumus kenapa Tuan Tigabelas punya tempat di hati banyak orang.

Tahun 2019 lalu, ia memberi hadiah untuk banyak orang yang menunggu-nunggu. Debut album penuhnya “Harimau Soematra dirilis. Penantian banyak orang berakhir. Kuantitas manggung pun makin sering dijalani.

Sulit untuk tidak mengatakan bahwa Tuan Tigabelas begitu dicintai oleh pendengarnya. Selain berkarya sendiri, ia juga murah hati. Dengan mudah diajak kolaborasi sepanjang misinya sama. Itulah kenapa ada banyak sekali single yang menampilkan kontribusinya.

Ada satu prinsip yang selalu dikandung. “Kalau gue dan teman-teman itu kita garis bawahin banget sih, attitude segalanya. Kalau skill, elo bisa belajar. Tapi attitude, kalau nggak bener elo mau sekeren apa pun nggak bakalan jalan,” katanya tentang dasar berkarya yang ia terapkan.

Dengan begitu, sifat membuminya bisa dirasakan dengan mudah. Kendati memang, mulut besarnya tetap bersuara lewat karya. Di scene hiphop, adu kata-kata memang hal biasa. Kadang, tradisi beef –di mana satu orang menyerang lainnya dengan adu kata— memang dihidupi tanpa perlu dibawa ke urusan baku hantam fisik.

“Ranahnya di karya menurut gue. Itu kenapa gue bilang beef itu elemen sehat. Karena itu satu platform untuk anak-anak hiphop bisa berkompetisi,” terangnya lagi seperti dikutip dari MLDPODCAST.

Ia melanjutkan, “Gue suka banget sih bikin sesuatu yang bisa encourage orang lain. Maksudnya, gue diselamatin sama musik berkali-kali. Gue pengen banget, entah nyampe apa nggak, gue pengen banget ngelakuin sesuatu yang sama. Gue pengen ngasih orang spirit baru lewat musik yang gue bikin.”

Dengan prinsip dan kemampuan untuk menulis lagu bagus, Tuan Tigabelas menjadi satu figur penting di scene hiphop. Salah satu yang juga penting adalah penerimaannya yang luas. Tidak banyak kubu hiphop lokal yang berseberangan dengan dirinya.

Setelah Harimau Soematra pun, ia terus bergerak. Jangan heran, jika terus menerus kita akan mendengar kabar baru darinya. (*)

Budaya Pop Barat dan Ekspresi Musisi di Era 70-an

Sun, 21 February 2021
Budaya Pop 70an

Musik pop dipandang sebagai genre musik yang easy listening dan memiliki banyak pendengar. Genre musik yang bisa dinikmati oleh semua kalangan ini akan menjadi genre yang melekat dengan masyarakat Indonesia.

Beberapa minggu lalu, MLDSPOT sempat ngebahas tentang genre AOR (Adult Oriented Rock) yang mempengaruhi kehadiran gaya musik city pop. AOR sendiri di Indonesia punya peran atas kehadiran gaya musik Pop Kreatif yang dipengaruhi oleh terbukanya akses informasi bagi masyarakat Indonesia setelah sekian lama menutup diri dari dunia luar.

Bertahun-tahun berlalu, sekarang muncul kembali gaya musik baru dengan istilah baru, yaitu Indonesian City Pop.Tapi sebelumnya, apa sih yang akhirnya membuat industri musik Indonesia menjadi lebih berkembang? Apakah murni pengaruh dari negara barat? Dari pada penasaran, mendingan simak ulasan selengkapnya di bawah ini, bro!

Informasi Terbatas yang Membuat Tidak Bebas

Budaya Pop 70an

Credit image - Historia

Pada tahun 1950 Indonesia sempat membatasi diri dengan lingkungan luar yang menyebabkan akses informasi mengenai musik pun menjadi lebih terbatas. Hal ini dikarenakan kebijakan politik yang dilakukan oleh pemerintah saat itu – yaitu melarang pemutaran musik bergenre rock dan musik-musik barat lainnya.

Nggak cuma sebatas pelarang musik dari barat, bahkan para musisi pun dilarang untuk hadir dengan lagu-lagu yang bermusik keras. Musik yang diproduksi kala itu hanya musik-musik yang memiliki irama musik lokal yang diperbolehkan – seperti keroncong.

Pembatasan informasi mengenai dunia barat ini sejalan dengan politik anti-barat yang saat itu dianut oleh Indonesia. Pada pergantian pemerintahan pada tahun 1967,  akhirnya kebijakan pun berubah. Dari perubahan inilah akhirnya arus informasi mengenai musik pun menjadi lebih terbuka.

Perubahan kebijakan ini seakan menjadi keran bagi para musisi untuk melebarkan sayapnya dalam mengakses informasi dan juga memproduksi musik. Salah satunya dengan munculnya band-band papan atas seperti Koes Bersaudara, Godbless, dan The Rollies.

Terbukanya Informasi Musik Indonesia

Beberapa tahun kemudian, musik Indonesia pun menjadi lebih berkembang. Musik nggak lagi dijadikan alat politik nasional, namun justru berkembang menjadi media ekspresi bagi masyarakat. Akhirnya, perkembangan musik Indonesia saat itu pun menjadi lebih beragam.

Hal ini juga didukung dengan mulai lahirnya banyak media cetak untuk memberikan informasi mengenai musik Indonesia. Salah satunya lewat majalah Aktuil pada 1967. Majalah ini memberitakan tentang musik dari Western Pop, salah satunya dengan kehebatan genre musik rock saat itu.

Dengan ketepatan berita dan up-to-date-nya dengan musik barat, Majalah Aktuil menjadi salah satu media yang sangat berpengaruh dalam perjalanan musik Indonesia dan para musisi dalam menciptakan karyanya. Salah satu perkembangan dunia musik yang dipengaruhi oleh Aktuil adalah kebebasan bermusik dalam musisi dalam menciptakan lagu-lagu yang memiliki lirik yang relatable bagi masyarakat.

Ekspresi Musisi dalam Balutan Konser

Budaya Pop 70an

Credit image - Historia

Keterbukaan Indonesia akan informasi mengenai musik juga semakin membuat industri musik Indonesia menjadi lebih berkembang. Terlebih sejak terbukanya informasi ini semakin membuat Indonesia menjadikan negara barat sebagai kiblat dalam bermusik, salah satunya banyaknya muncul panggung konser di Indonesia.

Salah satu konser yang saat itu sangat melegenda adalah Woodstock. Diselenggarakan di penghujung tahun 1960-an, konser ini dianggap sebagai wadah ekspresi masyarakat yang sudah penat dengan kondisi yang melanda mereka saat itu – akhirnya, kehadiran konser ini memberikan rasa baru di Industri musik barat ketika masuk dekade yang baru, khususnya genre rock.

Seakan nggak mau kalah, Indonesia juga membuat pagelaran panggung musik yang nggak kalah kerennya dengan Woodstock dengan menghadirkan pagelaran konser musik Summer 28 pada tahun 1973 dan Kemarau 75 pada tahun 1975.

Kedua konser ini memberikan perubahan yang cukup pesat pada industri musik sebagai wadah ekspresi – hal ini merujuk tidak hanya kepada para penonton yang bebas berekspresi, tapi juga para musisi dalam menghasilkan karyanya.

Selain konser - ternyata lifestyle, tren fashion, serta apapun yang bersinggungan dengan budaya pop barat pun ikut ditiru secara langsung oleh para masyarakat Indonesia. Dari tren dan informasi budaya barat inilah yang akhirnya membukakan referensi para musisi Indonesia untuk menciptakan gaya musik yang lebih kebarat-baratan.

 Tapi – apa benar industri musik Indonesia bisa berkembang hingga saat ini karena pengaruh dari dunia barat aja? Kalau penasaran, tunggu ulasan baru minggu depan ya, bro!

 

Feature image – Arsip Irama Nusantara

Referensi:

https://supermusic.id/superexclusive/supernoize/alvin-yunata-wajah-musik-pop-dulu-dan-hari-ini

https://media.neliti.com/media/publications/11310-ID-dekonstruksi-musik-pop-indonesia-dalam-perspektif-industri-budaya.pdf

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20190816093616-227e21856/woodstock-1969-festival-musik-yang-mengubah-amerika

https://pophariini.com/menilik-majalah-aktuil-jurnalisme-rock-indonesia-era-70an/3/