• Music News
  • Album Kelima The Changcuters yang Emosional

Album Kelima The Changcuters yang Emosional

Thu, 09 March 2017

Album terakhir dari The Changcuters yang bertajuk Visualis muncul pada tahun 2013. Ketika meluncurkan album tersebut, Tria sang vokalis mengatakan bahwa album tersebut merupakan awal dari trilogi album yang akan dibuat oleh The Changcuters. Nah, setelah tiga tahun vakum, akhirnya sequel album dari Visualis muncul dengan nama Binauralis yang tanggal 1 Maret 2017 kemarin baru saja diluncurkan di Jakarta.

 

Salah Satu Album Paling Emosional Changcuters

Sebagai anak 1990-an, lagu I Love U Bibeh, Hijrah ke London, atau Racun Dunia adalah soundtrack yang pas ketika lo SMA atau memasuki bangku kuliah. Nama The Changcuters ini bersama Peterpan, Nidji, Ungu, Kotak, dan band pop rock lainnya selalu menghiasi setiap pensi (pentas seni) di kota-kota besar. Tetapi di tahun 2014 dan 2015, nama The Chancuters seakan tenggelam di belantika musik Indonesia.

Ternyata usut punya usut nih Urbaners, selama tiga tahun belakangan ini The Changcuters menggarap serius materi album Binauralis. Bahkan bisa dibilang album ini adalah album mereka yang paling rapi dan emosional.

“Kami memang bongkar pasang. Dari segi lirik, dari segi aransemen pun kamu mencoba keluar dari zona nyaman,” ujar Tria seperti dilansir oleh rollingstone.com.

 

Binauralis Lebih Bermain ke Instrumen

Jika lo mendengar setiap lagu di album Binauralis, lo akan menyadari bahwa ada instrumen yang unik di setiap lagunya. Seperti di lagu Bentrok Sinyal, lo akan melihat bagaimana anak-anak Changcuters ini memperhatikan setiap detail petikan gitar.

Tria juga mengatakan bahwa tiga belas lagu di album Binauralis ini memang nyambung di setiap lagunya. Dan di setiap lagunya juga menyimpan simbol suara serta pemainan instrumen vokal. Salah satu unsur uniknya bisa lo dengarkan di lagu Robot Kota, di mana Changcuters sedikit melibat musik EDM. Walaupun nggak mendominasi, irama rock n roll tetap terasa di lagu ini.

Penasaran dengan lagunya? Coba denger di iTunes atau Spotify, Urbaners. Apalagi kalau lo yang sudah menunggu tiga tahun, pasti rasa rindu lo langsung terbayar!

 

Source; rollingstone.com

Konsep Retro, Vintage, dan Pesona Prancis di Setiap Melodi Vira Talisa

Tue, 14 July 2020
Vira Talisa dengan tampilan rambut updo sedang bercermin, mengenakan blouse putih dengan garis abu dan kuning

Cantik, unik, dan bertalenta, Vira Talisa membawa angin segar bagi musik Indonesia, terkhusus dalam musik indie. Dara kelahiran Jakarta yang satu ini ternyata merupakan lulusan Visual Art dari Universitas Rennes, Prancis.

Selama 4 tahun menimba ilmu di negara asing, selepasnya Vira memutuskan untuk fokus bermusik. Baru saja merilis album terbaru “Primavera”, Vira Talisa siap untuk memanjakan telinga pendengar #MumpungLagiDirumah dengan lantunan lagu retro-pop yang manis.

 

Berawal dari Visual Art hingga Bermusik

Vira Talisa menyanyi dengan mic, mengenakan kemeja biru dan topi berwarna orange

Seni dan bermusik merupakan dua hobi seorang Vira Talisa. Sempat terpikir untuk mengambil jurusan musik, namun niat tersebut diurungkan karena takut malah membuat musik jadi terasa seperti “pekerjaan” yang nggak lagi bisa dinikmati dengan santai.

Walau memang seni dan musik merupakan dua hal yang berbeda, Vira merasa justru pengalamannya saat berkuliah menjadi bekal untuk ia menjadi penyanyi, sekaligus mendorongnya untuk benar-benar menggeluti musik. Menggeluti seni secara akademis, dan musik di luar aktivitas akademisnya membuat Vira merasa kedua jalan hidupnya tersebut selaras.

 

Prancis dan Setiap Kenangan di Sana

Salah satu cover single Vira Talisa, mengenakan straw hat dan sarung tangan kulit berwarna hitam

Kalau berbicara soal negara Prancis, pasti yang ada di benak lo adalah suasana romantis di sepanjang sungai Seine dan gemerlap menara Eiffel. Itu juga suasana yang ingin diciptakan oleh Vira lewat musik-musiknya, termasuk juga album terbarunya bertajuk Primavera yang berarti musim semi. Selama Vira berada di Prancis, ia juga masuk ke dalam komunitas dan pertemanan yang memiliki minat musik yang serupa.

Vira merasa klik dengan referensi musik retro-pop yang didapatkannya selama di Prancis. Begitu pula dengan hasil belajar yang ia tekuni di Prancis. Meski mengambil jurusan Visual Art, nyatanya di dalamnya juga mencakup bidang sastra dan film, di mana akhirnya Vira juga mampu mengasah pemahamannya akan musik sebagai salah satu komponen film.

 

Terinspirasi dari The Beach Boys dan Soundtrack Film Klasik

Vira Talisa sedang duduk di sofa sambil menulis di buku berwarna orange

Kiprah bermusik Vira benar-benar dimulai sejak nol, berawal dari sekadar meng-upload hasil cover lagu di platform Soundcloud. Hingga akhirnya, Vira pun berhasil merilis album self-titled di tahun 2016. The Beach Boys menjadi salah satu panutan Vira dalam bermusik dan musisi yang memperkenalkan Vira ke musik dengan genre retro.

Nggak hanya The Beach Boys saja, Vira juga jatuh cinta dengan konsep vintage dan genre pop-retro melalui soundtrack film garapan Jean-Luc Godard, seperti “Singing in the Rain”. Film-film klasik di era 30-an dan 60-an menjadi inspirasi bagi musikalitas Vira Talisa.

 

Dukungan Manis dari Orang Tercinta

Vira Talisa menyanyi di atas panggung dengan dress hitam

Dibesarkan di keluarga pencinta musik, Vira Talisa ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan legenda musik Eyang Titiek Puspa. Keluarganya sering mendengarkan lagu-lagu karya Everly Brothers dan The Beatles yang membuat Vira sebagai sosok old soul dengan kemampuan bermusik yang nggak perlu diragukan lagi.

Dalam album Primavera yang berisikan delapan lagu, ada satu lagu berjudul “He’s Got Me Singing Again” yang menceritakan sosok sang kekasih, Radityo Joko Bramantyo. Bagi Vira menulis lirik dan menggarap musik itu adalah ekspresi paling jujur yang bisa dimiliki seseorang. Sekarang, album Primavera sudah bisa didengarkan di berbagai platform streaming. Vira juga sedang fokus untuk merilis album fisik dan tetap melahirkan tembang-tembang retro-pop.

 

 

 

Sources: Medcom.id, CNN Indonesia, Liputan 6.